Jangan Sepelekan Cedera Tulang

Dengan implan terbaru total knee replacement, sendi lutut bisa ditekuk dengan lebih baik dan tahan hingga 25 tahun



Resolusi 2016, buat seorang atlet bulu tangkis sekelas Mohammad Ahsan, misalnya, tentu bukan persoalan main-main. Menapaki prestasi cemerlang ibarat sebuah perjalanan yang tak hanya mesti dilakoni dengan latihan serius, tapi juga performa yang harus terus dijaga. Yang namanya cedera, bagi siapapun yang mengalaminya, bisa menjadi masalah tersendiri. Apalagi buat seorang atlet dunia, sekelas Ahsan.

Risiko hilangnya kepercayaan diri, semangat hidup, bahkan menurunnya kualitas hidup seseorang secara berkepanjangan dikarenakan cedera, inilah yang harus diantisipasi sedini mungkin. Terlambat atau tak tepat penanganannya, bisa berakibat buruk.

Prinsipnya, jangan pernah menyepelekan cedera atau rasa nyeri yang timbul di tubuh kita, seperti, rasa sakit di lutut, persendian, tulang belakang, dan sebagainya. Dikatakan oleh dr Nicolaas Budhiparama, Sp. OT (k) dokter ahli bedah tulang dengan reputasi dunia, RS Medistra, Jakarta, kondisi yang berhubungan dengan degeneratif (baik lutut, panggul, dan tulang belakang) atau penuaan seperti perkapuran dan keropos, cedera olahraga dan tentunya trauma, masih cukup banyak dijumpai, selain kelainan bawaan pada anak. Untuk tulang belakang banyak dilakukan prosedur minimally invasive spine surgery pada kelainan degeneratif dan osteoporosis yang dilakukan oleh dr Ifran Saleh, Sp. OT (K), di RS Medistra.

Masalah tulang sedikit banyak berhubungan dengan meningkatnya angka harapan hidup, daya hidup, aktivitas dan juga faktor genetik. Misalnya orang yang kurang aktivitas dan berat badan yang kurang aktivitas dan berat badan berlebih, dapat menderita pengeroposan tulang (osteoporosis) dan perkapuran (osteoarhritis) secara bersamaan. Sebaliknya, dengan meningkatnya kesadaran dan aktivitas berolahraga di masyarakat, cedera olahraga juga cukup sering terjadi.

Dalam pengobatan orthopaedi atau yang berkaitan dengan keluhan pada tulang, dokter Nicolaas, yang juga pendiri dan pernah menjabat sebagai Presiden IHKS (Indonesian Hip and Knee Society), menekankan perlunya berkonsultasi pada dokter berdasarkan subspesialisasinya. 

“Zaman dulu dokter diibaratkan Superman. Seorang dokter bedah misalnya, bisa menangani semua kasus bedah. Sekarang, untuk orthopaedi pun sudah lebih canggih, sudah ada subspesialisasinya. Untuk keluhan dipanggul dan lutut misalnya, sebaiknya dilakukan oleh dokter orthopaedi sesuai keahliannya,” ujar dokter ahli bedah khusus panggul dan lutut, serta kedokteran olahraga ini. Maka, menurutnya, para dokter orthopaedi harus mengikuti program (fellow ship) selama 1-2 tahun, untuk mendapatkan sertifikat subspesialisasinya.

Jadi, jangan sampai pengobatan justru menjadi bumerang bagi pasien. Terlebih lagi pada penanganan atlet-atlet profesional, dimana kasus terbanyak adalah cedera atau robekan bantalan tulang dan urat besarnya anterior cruciate ligament (ACL) putus. Untuk mengobati cedera ini, tak selalu harus dengan operasi. ”Tidak segampang itu. Harus dilihat setiap cedera / kasus. Bisa dengan rehabilitasi dulu, dan kalau perlu direkonstruksi secara artroskopi. Perlu dipertimbangkan beberapa persen setelah direkonstruksi bisa kembali ke performa sebelum cedera,” ujar dokter Nicolaas yang banyak menangani atlet-atlet dunia / nasional.

Itu sebabnya, untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi apa yang paling sesuai, harus dilakukan dengan hari-hari dan sifatnya individual. Tak bisa disamakan untuk setiap pasien. Pemeriksaan klinis yang komperhensif diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Dan jika diperlukan bisa dilakukan pemeriksaan tambahan seperti radiologi dan laboratorium.

Begitu pula dengan screening untuk deteksi dini penyakit, diperlukan untuk kasus-kasus tertentu, seperti, osteoporosis pada mereka yang memiliki faktor risiko.

Sedangkan untuk kondisi yang lain, dapat dilakukan bersama dengan check up rutin pasien pada umumnya.

Pengeroposan tulang atau osteoporosis dikenal sebagai silent disease. Penyakit yang menyerang secara diam-diam ini, harus disadari betul karena tidak ada gejalanya. Bisa jadi tahu-tahu, seorang terlihat lebih pendek, atau tiba-tiba jatuh yang tidak terlalu keras tapi mengalami patah tulang. Pemeriksaan yang dilakukan untuk deteksi dini adalah dengan Bone Mineral Density Test. “Dengan pemeriksaan yang tepat, nanti akan terlihat apakah seseorang mengalami tulang keropos, menuju keropos, atau normal,” tutur dokter yang juga ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) ini. 

Dokter Nicolaas menambahkan, dengan perubahan gaya hidup di zaman sekarang usia 40 tahun dianjurkan untuk screening. Selain Jakarta Osteoporosis Center yang terletak di RS Medistra, teknologi canggih seperti MRI dan MSCT (Multi Slice Computed Tomography) tiga dimensi yang tersedia di sini memang punya peran penting dalam menegakkan diagnosis dan meingkatkan presisi serta keberhasilan dalam terapi harus dilakukan secara berjenjang.

MRI yang dimiliki oleh RS Medistra adalah MRI 1.5 Tesla, type HDxT. MRI bisa memberikan gambaran yang menunjukkan perbedaan sangat jelas dan lebih sensitif dalam menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh. Termasuk susunan muskuloskeletal seperti otot, ligamen, tendon, tulang rawan, juga ruang sendi.

Untuk terapi pada kelainan orthopaedi, dikenal terapi konservatif dan operatif. Untuk uang konservatif bisa dilakukan dengan edukasi, fisioterapi, pemakaian alat bantu dan pengobatan. Sedangkan yang operatif, selain dengan operasi yang konvensional juga bisa dengan peralatan dan implan terbaru dengan teknik Minimally Invasive Surgery yang merupakan pengembangan dari teknologo sebelumnya. Contohnya, jenis plate yang digunakan dalam operasi patah tulang sudah dibuat dengan menyesuaikan pola anatomi tulang aslinya. Yang lebih penting lagi, memperbarui pengetahuan dan trean yang berkembang di dunia. Karena setelah sekian lama, setiap teknik operasi perlu di evaluasi kembali baik kelebihan maupun keurangannya.

Operasi penggantian sendi lutut (total knee replacement atau TKR) amat tergantung kondisi sebelum operasi. “Untuk normal kembali 100 persen, jelas tidak bisa,” ujar dokter lulusan university Hospital, Leiden, ini. Yang penting adalah, jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari pasien barulah dilakukan tindakan operasi.

Dalam penggantian sendi lutut (TKR), RS Medistra merupakan salah satu leader di Asia Pasifik. Operasi TKR dengan bantuan navigasi komputer (Computer Assisted Surgery atau CAS) dimulai sejak tahun 2004.”Dan pada tahun 2007, RS Medistra berhasil melakukan operasi menggunakan prostesis hyperflex rotating platform yang pertama di Indonesia,” kata dokter Nico, sapaan akrabnya. Dengan operasi hyperflex tersebut yang merupakan prostesis generasi terbaru, sendi lutut yang rusak bisa diganti dengan fungsi yang lebih baik. Pada bulan Agustus 2015, grand launching se-Asia Pasifik telah dilakukan di Indonesia untuk implan terbaru dan tercanggih dari sistem rotating platform, dengan fitur Multi Gradius J-Curve sehingga memungkinkan lutut akan bisa ditekuk dengan lebih baik lagi dan bertahan lebih lama hingga 25 tahun.

Tak ayal, perdebatan panjang pun acapkali terjadi dalam penaganan cedera yang berkaitan dengan tulang ini. Apalagi bagi para atlet yang mengharapkan hasil yang terbaik. Selama masih bisa dilakukan dengan obat-obatan, fisioterapi, dan ditangani dengan benar, baik masyarakat umum maupun atlet akan bisa beraktvitas kembali, bahkan menorehkan prestasi membanggakan. Buktinya, pasangan Ahsan dan Hendra bisa menjadi juara dunia tahun 2013 dan 2015 meski sempat cedera beberapa waktu sebelumnya.

Mencegah sebelum mengobati tetaplah sebuah pilihan bijak. Life is movement, and movement is life adalah sebuah semboyan penting. Demi menjaga kesehatan tulang dan sendi, dianjurkan pada semua orang untuk banyak bergerak. Namun, jangan abaikan faktor risiko yang dimiliki. Artinya, cedera atau riwayat penyakit yang diderita patut dipertimbangkan sebelum memlilih aktivitas fisik yang paling tepat.

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Informasi dan Jadwal Dokter Ortopedi (Tulang dan Sendi) terbaik di Jak...

Nicolaas C. Budhiparama, MD., PhD., SpOT (K) adalah Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi Indonesia yang menamatkan gelar Spesialisnya di Leiden University Medical Center, Belanda.

Selengkapnya

Menunggu bunyi klek di lutut

Setelah ruang tercipta, Nico mencoba memasang sendi lutut buatan itu. Ternyata ukurannya belum pas. Penggergajian kembali dilakukan.

Selengkapnya

Bagaimana Mencegah Keropos Tulang

Apa itu osteoporosis? Kenapa penyakit itu banyak diderita kaum wanita? Apa gejalanya? Bagaimana cara mengatasinya? Apa hubungannya dengan olahraga yang berlebihan?

Selengkapnya