Memperpanjang Harapan Hidup Penderita Kanker Tulang

Selama ini, banyak penderita kanker tumor tulang yang tak tertolong, dikarenakan cara pengobatan yang tidak tepat. Amputasi bukan saja telah menyebabkan penderita kehilangan bagian tubuhnya, tetapi juga kerap mempercepat kematian.



Selama ini, banyak penderita kanker tumor tulang yang tak tertolong, dikarenakan cara pengobatan yang tidak tepat. Amputasi bukan saja telah menyebabkan penderita kehilangan bagian tubuhnya, tetapi juga kerap mempercepat kematian. Metode rekonstruksi hemipelvis kini dianggap paling tepat, bahkan dengan bantuan kemoterapi dapat memperpanjang harapan hidup sampai 95 persen. 

Priyatna adalah sebuah contoh. Anak muda ini, Iebih setahun yang lalu diketahui mengidap kanker tulang yang ganas. Penyakit mematikan ini semula menyerang bagian pangkal paha kirinya. Dalam waktu yang relatif singkat, sel kanker telah menyebar dan menggerogoti bagian atas tulang pahanya itu. Ketika dirontgen, terlihat bahwa bagian yang terserang kanker itu telah hancur menjadi serpihan. Ini pastilah rnenimbulkan rasa sakit yang tak kepalang, terutama bila si penderita menggunakan anggota tubuhnya itu. Sebab, harap diingat, kanker tulang menimbulkan rasa nyeri yang tak terperikan. Dalam waktu singkat, kaki kirinya ini seperti memendek. Ini dikarenakan kanker telah menghancurkan bagian persendian di pangkal paha, sehingga panjang tulang menjadi berkurang. Pada kondisi yang sudah sangat serius ini, terutama dikarenakan penyakit kanker itu sudah memasuki stadium lanjut, pasien asal sebuah rumah sakit pemerintah di Jawa Tengah ini dikirim ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. 

 

Dokter Nicolaas Budhiparama jr, F.I.C.S., ahli bedah tulang yang menangani Priyatna, segera memutuskan untuk mengambil langkah yang dipandang paling tepat sebagai upaya penyelamatan. Menggunakan metode rekonstruksi hemipelvis, salah satu metode mutakhir yang baru diperkenalkan di Indonesia. 

Metode ini merupakan perpaduan cara penanganan kanker yang dikordinasikan sedemikian rupa, sehingga tidak saja mampu menyelamatkan bagian tubuh yang — pada masa lalu — harus diamputasi, tetapi sekaligus pula memperpanjang harapan hidup si penderita. 

Tahun-tahun sebelumnya, tindakan amputasi terhadap penderita dengan kondisi seperti Priyatna diperkirakan bisa mengatasi menjalarnya sel kanker. Tetapi, ternyata amputasi ini bukanlah sebuah jalan keluar yang tepat terhadap kanker. Bahkan, dalam banyak kasus, amputasi malahan mempercepat kematian sang pasien. 

"Tetapi, dengan metode rekonstruksi hemipelvis, kemungkinan hidup dapat ditingkatkan, dari lima persen menjadi 95 persen," kata dokter Nico yang mengambil spesialisasinya di Academisch Ziekenhuis Leiden, Negeri Belanda. Cara-cara ini merupakan kombinasi antara pemberian kemoterapi (neo adjuvant therapy) dan bedah tulang untuk menyelamatkan bagian tubuh (limb salvage), sekaligus merekonstruksi bagian tersebut kembali. 

Pembedahan tidak akan dilakukan sebelum si penderita mendapat kemoterapi. Sebab, sebelum tahu sebatas mana sudah penyebaran sel kanker, maka langkah amputasi adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Pembuluh darah di sekitar bagian yang terkena kanker membengkak, sehingga pendarahan akan terjadi banyak sekali. Selain itu, kalau hanya mengamputasi tanpa mengetahui sudah sejauh mana tingkat penyebaran sel kanker, maka langkah ini menjadi sangat sia-sia, bahkan mempercepat kematian. 

Setelah kemoterapi, segera dapat diketahui sudah sejauh mana penyebaran sel kanker. "Ketika itu, barulah saya melakukan pembedahan: Otot dan tulang diangkat. Kemudian, pekerjaan lanjutan memasuki tahapan yang sangat rumit dan susah, yakni rekonstruksi," kata Dr. Nicolaas, yang pernah menjadi Chefdecliniquedi Orthopaedische Chirurgie A.Z. Leiden, Belanda. 

Seperti pada kasus Priyatna, bagian tulang yang sudah digerogoti kanker itu diamputasi, digantikan dengan bagian lain dari tubuhnya, diberi pen, dan direkonstruksi sedemikian rupa. Bahkan, bagian cangkok tulang pada persendian tulang pangkal paha yang sudah hancur itu dibuatkan Nico cangkok tulang yang baru, sendi buatan dari metal, yang dapat berfungsi sebagai tulang persendian. Betapapun sulit dan rumitnya, keahlian yang sangat khusus dibutuhkan untuk menangani kasus ini.

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Sudah Cukupkah Asupan Kalsium Anda Selama Pandemi

Menjaga daya tahan tubuh selama pandemi menjadi tameng agar tidak terular virus Covid-19. Salah satu caranya meningkatkan sistem imun dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan multivitamin.

Selengkapnya

Menderita Skoliosis, Bagaimana Cara Penanganannya

Perlu diketahui, Skolosis merupakan kondisi di mana penderitanya mengalami tulang punggung miring atau bengkok. Lantas, bagaimana penanganannya? Dan apakah kelainan tulang ini bisa dicegah dan diobati?

Selengkapnya

Mengidap Flu Tulang? Ini Cara Mengatasinya

tTahukah kamu kalau ada penyakit flu lainnya, yaitu flu tulang. Flu tersebut merupakan disebabkan oleh sebuah virus. Namun apa itu flu tulang?

Selengkapnya