Osteoartritis kronis kini bisa diperbaiki dengan operasi menggunakan bantuan komputer. Lebih akurat, meski mahal.

Jangan pernah menganggap sepele rasa nyeri yang tiba-tiba muncul di lutut, terutama bila usia sudah mendekati paruh baya. Bisa jadi itu merupakan pertanda awal osteoartritis. Meskipun tidak mematikan, penyakit ini menyerang tulang rawan pada sendi lutut



Jangan pernah menganggap sepele rasa nyeri yang tiba-tiba muncul di lutut, terutama bila usia sudah mendekati paruh baya. Bisa jadi itu merupakan pertanda awal osteoartritis. Meskipun tidak mematikan, penyakit yang menyerang tulang rawan pada sendi lutut ini bisa membuat penderita menghabiskan sisa hidup di atas kursi roda.


Osteoartritis ini sering menimpa mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Diperkirakan 25-30 persen orang berusia 45-64 tahun mengalaminya. Semakin lanjut usia, kemungkinan terkena osteoartritis makin besar. Peluangnya bisa mencapai 85 persen.

Seperti diketahui, tulang rawan yang berupa lapisan bantalan jaringan antara tulang persendian lutut ini punya peran teramat penting dalam setiap posisi, gerakan tubuh, dan membawa beban tubuh. Bayangkan, jika bagian ini rusak, tulang persendian lutut pun bergesekan. Bukan cuma terasa nyeri, permukaan kedua tulang itu lama-kelamaan bisa rusak, meradang, bahkan kaki bisa membengkok, seperti huruf O atau X. Jika sudah mencapai stadium lanjut, tak ada jalan lain, penderita harus dioperasi. Karena belum ditemukan obat yang cespleng, penyakit ini biasanya "hanya" ditangani dengan terapi fisik dan suntikan penghilang rasa nyeri.

Masalahnya, operasi pergantian sendi lutut itu sangat menyeramkan. Selain perlu banyak sayatan pada lutut, pengerjaannya bisa kurang akurat. Akibatnya, bisa muncul komplikasi, seperti saraf yang ikut rusak tersayat. Ketidaktepatan biasanya terjadi pada saat memotong bagian antara tulang paha dan tulang kering, serta ketika menyatukannya kembali dengan menggunakan tulang palsu. Kalau pemasangan kurang tepat, pasien harus melakukan operasi ulang. Para dokter pun mengakui, operasi jenis ini adalah yang paling rumit di antara operasi tulang lainnya. Nah, Dr. Nicolaas C. Budhiparama Jr, ahli bedah tulang lutut dari Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, menawarkan solusi. Operasi tetap dilakukan, namun dengan bantuan komputer atau computer assisted surgery (CAS). Fungsi utama alat ini adalah membantu meningkatkan akurasi, baik pada saat pemotongan tulang maupun ketika pemasangan implan di sendi lutut. Tingkat kesalahan ketika menyayat cuma 0,59 milimeter.

Bandingkan dengan operasi manual yang bisa mencapai 2,4 milimeter. Kata dokter lulusan Universitas Leiden, Belanda ini, CAS sudah banyak digunakan di banyak pusat ortopedi di seluruh dunia. Di Indonesia, operasi dengan menggunakan CAS pertama kali dilakukan pada Mei 2006 di Rumah Sakit Medistra. Dengan bantuan komputer ini, tindakan bedah tulang tidak lagi membutuhkan banyak alat bantu. Lutut pun tak perlu "diobrak-abrik", cukup dibuka dengan sayatan kecil. Hingga pasien pun lebih nyaman, karena tak perlu menahan rasa sakit berkepanjangan. Menginap di rumah sakit pun cukup semalam saja. Cuma, jika dibanding operasi "konvensional", biaya bedah ini lebih mahal. 

Rona, 58 tahun sudah merasakan keampuhan cara ini. Nenek dua orang cucu yang masih aktif bekerja sebagai konsultan pemasaran senior Da Vinci, sebuah perusahaan furniture dan perhiasan mewah ini, divonis osteoartritis stadium lanjut setahun lalu. Dia sudah mencoba berbagai cara pengobatan. "Lutut saya makin meradang. Bentuk kaki makin bengkok. Jangankan berjalan, menekuk kaki saja tak mampu," katanya. 

Rona akhirnya terpaksa menggunakan kursi roda. Ketika dokter menyarankan operasi, Rona menolak. Dia terbayang proses yang menakutkan. Apalagi banyak yang bilang komplikasinya tak kalah menakutkan. Dia pun memilih berobat ke sinshe. Rona juga sempat pergi ke Singapura. Dia berharap di sana tak perlu operasi.

Nyatanya, dokter di Singapura juga menyarankan hal serupa. Akhirnya, operasi pun dijalankannya. "Ternyata tak seseram yang dibayangkan," katanya. 

Operasi cuma berlangsung kurang dari satu jam. Kulit dengkulnya pun tak perlu menerima banyak sayatan. Cuma menghasilkan segaris luka kecil. Dua pekan setelah operasi, Rona dengan leluasa menekuk kaki. "Saya bisa duduk bersila," katanya. Namun, dia tetap terus menjalani fisioterapi atau terapi fisik, baik di rumah sakit maupun di rumah. Walhasil, Rona sang nenek pun kembali lincah.

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Sudah Cukupkah Asupan Kalsium Anda Selama Pandemi

Menjaga daya tahan tubuh selama pandemi menjadi tameng agar tidak terular virus Covid-19. Salah satu caranya meningkatkan sistem imun dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan multivitamin.

Selengkapnya

Menderita Skoliosis, Bagaimana Cara Penanganannya

Perlu diketahui, Skolosis merupakan kondisi di mana penderitanya mengalami tulang punggung miring atau bengkok. Lantas, bagaimana penanganannya? Dan apakah kelainan tulang ini bisa dicegah dan diobati?

Selengkapnya

Mengidap Flu Tulang? Ini Cara Mengatasinya

tTahukah kamu kalau ada penyakit flu lainnya, yaitu flu tulang. Flu tersebut merupakan disebabkan oleh sebuah virus. Namun apa itu flu tulang?

Selengkapnya