Cedera pada Bulutangkis

Badminton atau bulu tangkis adalah olahraga yang sangat popular di Indonesia. Dianggap sebagai olahraga raket tercepat, pemain bulu tangkis membutuhkan stamina aerobik, kelincahan, kekuatan, kecepatan, dan ketepatan, dan koordinasi motorik yang baik.



Badminton atau bulu tangkis adalah olahraga yang sangat popular di Indonesia. Dianggap sebagai olahraga raket tercepat, pemain bulu tangkis membutuhkan stamina aerobik, kelincahan, kekuatan, kecepatan, dan ketepatan, dan koordinasi motorik yang baik dan gerakan raket yang kompleks. Bulu tangkis juga memerlukan koordinasi berbagai otot dan sendi tubuh baik tubuh bagian atas (leher, dada), anggota gerak atas (bahu, lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan, dan tangan), inti tubuh (otot perut dan punggung), anggota gerak bawah (pinggul, bokong, paha, lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki). Permainan ini memerlukan gerakan kompleks dengan perubahan variasi postural dan arah yang cepat, yang seringkali dilakukan berulang-ulang dengan hentakan tajam dan tiba-tiba, serta penuh trik untuk menipu lawan. Hal ini menempatkan pemain pada risiko cedera non-kontak pada otot, sendi, ligamen, hingga tendon. Jika tidak hati-hati, cedera dapat terjadi saat bermain bulu tangkis. Cedera apa saja yang sering terjadi pada jenis olahraga ini?

 

  1. Muscle Strain & Sprain/Keseleo

Diantara banyak jenis cedera yang pada pemain bulu tangkis, strain dan sprain dilaporkan oleh beberapa studi epidemiologi termasuk cedera yang sering terjadi. Muscle strain adalah cedera yang terjadi akibat peregangan pada otot (baik secara pasif maupun, yang lebih sering terjadi, pada saat teraktivasi) sehingga menyebabkan peradangan bahkan sobekan serabut otot. Cedera strain ini dapat terjadi pada otot-otot punggung, bahu, lengan, paha, tungkai bawah, hingga kaki. Sedangkan sprain/keseleo, merupakan cedera yang terjadi akibat peregangan pada ligamen (struktur serabut terbuat dari kolagen yang menghubungkan 2 atau lebih ulang sehingga membentuk sendi) akibat gerakan mendadak yang membuat sendi bergerak melebihi ruang gerak yang semestinya (misal terkilir) atau aktivitas yang berlebihan. Cedera strain ini bisa terjadi di sendi manapun, dan yang paling sering pada pemain bulu tangkis adalah di sendi pergelangan kaki dan lutut. Bila pemain mengalami cedera ini, gejalanya bisa berupa nyeri, bengkak, dan kadang disertai memar. Selain itu, cedera ini juga bisa menimbulkan ketidakstabilan pada pergerakan sendi. Cedera sprain yang tak ditangani dengan tepat bisa saja menimbulkan berbagai komplikasi antara lain menyebabkan nyeri kronis pada sendi, arthritis sendi, dan ketidakstabilan kronis pada sendi.

 

  1. Cedera Punggung

Punggung juga dapat mengalami cedera yang cukup sering terjadi dalam bulu tangkis terutama disebabkan oleh high-loading, volume latihan yang tinggi dan intensif, serta kebutuhan akan fleksibilitas tulang belakang yang tinggi. Cedera yang dapat terjadi antara lain strain otot punggung, stress fracture pada tulang belakang, dan yang lebih jarang, kelainan pada diskus (Repetitive Traumatic Discopathy). Gerakan overhead repetitif seperti service dan smash tidak hanya membutuhkan kekuatan bahu dan lengan namun juga membutuhkan kekuatan yang dihasilkan dari gerakan otot inti tubuh (termasuk otot punggung). Stress fisik yang mengenai punggung tidak hanya signifikan dilihat dari besarnya pembebanan (besarnya energi yang menimpa tulang belakang dari suatu service dapat mencapai 3000 Newton) namun juga dari tingginya kebutuhan fleksibilitas punggung, posisi tertentu punggung yang seringkali asimetris (kombinasi posisi condong ke samping dan rotasi di akhir backswing, gerakan menerjang dan merunduk saat menerima service), dilakukan dalam tempo yang cepat berubah secara mendadak. Belum lagi digandakan oleh volume latihan yang sangat tinggi dan intensif. Penyebab lain cedera punggung bisa disebabkan kompensasi yang harus dilakukan punggung dalam gerakan set up smash untuk mengimbangi teknik pengaturan langkah kaki (footwork) yang kurang sempurna. Stabilitas yang baik dari pergelangan kaki dan pinggul dapat menurunkan risiko cedera punggung ketika melakukan lunges, lompatan, berputar, dan berbalik yang eksplosif dan mendadak.

 

  1. Cedera dan Nyeri Bahu

Cedera dan nyeri bahu cukup sering ditemukan pada pemain bulu tangkis. Selama gerakan smash kencang dan overhead, pembebanan terjadi secara eksentrik menyebabkan stress mekanis berlebihan pada kelompok otot di sendi bahu (antara lain otot rotator cuff), kapsul sendi, ligamen, dan tulang pada bahu. Bayangkan besarnya stress yang tinggi ini dialami berulang kali dan dengan kecepatan yang tinggi sehingga menyebabkan cedera akibat overuse. Karakter dari permainan ini juga membutuhkan mobilitas bahu dengan ruang gerak sendi yang lebih fleksibel dari semestinya juga dapat menyebabkan bahu rawan mengalami cedera. Pukulan dalam bulu tangkis membutuhkan transmisi energi dari tungkai dan tubuh ke anggota gerak atas (dalam hal ini bahu menjadi regulator dari energi ini) dan ke raket. Koordinasi yang kurang dalam tiap komponen rantai kinetik ini dapat menurunkan performa dan meningkatkan resiko cedera. Cedera yang dapat terjadi pada bahu pemain bulu tangkis antara lain subacromial pain syndrome, gangguan rotator cuff, ketidakstabilan anterior bahu, serta scapular dyskinesia . Banyak dari pemain bulu tangkis dengan cedera bahu tetap melanjutkan bermain bulu tangkis padahal hal ini dapat meningkatkan risiko menjadi kondisi yang kronis dan tentunya menurunkan performa dalam bermain.

 

  1. Cedera Pinggul dan Paha

Bulu tangkis melibatkan banyak gerakan eksplosif mulai dari lunges, berlari, menerjang, ataupun meloncat mendadak disertai perubahan arah yang begitu cepat. Tidak heran bila anggota gerak bawah termasuk yang paling sering terkena cedera saat bermain bulu tangkis, tidak terkecuali area paha. Cedera yang sering terjadi di area paha biasa disebabkan oleh strain atau robekan pada otot yang ditandai dengan nyeri mendadak saat melakukan gerakan pada paha sisi belakang dan bokong bagian bawah (hamstring), paha sisi depan (quadriceps), paha sisi dalam (otot adductor).

 

 

  1. Cedera Lutut

Bagian tubuh yang paling sering mengalami cedera saat bermain bulu tangkis adalah lutut. Kerja kontraksi eksentrik dan konsentrik dari otot paha yang beralih dengan cepat dalam berbagai derajat fleksi dan rotasi lutut, menciptakan beban energi yang besar terhadap struktur di lutut (misal tendon patella, ligamen, meniskus). Sehingga bila fleksibilitas dan kekuatan otot quadriceps dan hamstring kurang paripurna, menjadikan berbagai masalah pada lutut antara lain patellar tendinitis, cedera meniskus, sprain ligamen lutut, patellofemoral pain syndrome, bursitis, stress fracture. Gerakan yang cepat dan berulang pada bulu tangkis seperti lunges dan melompat menimbulkan impact loading serta torsi yang besar terhadap anggota gerak bawah, tak terkecuali ligamen lutut dan tendon patella terutama pada fase kontak awal. Saat eksekusi gerakan lunges, terdapat momen fleksi/ ekstensi yang meningkat dikarenakan kerja quadriceps yang meningkat ditambah daya shearing dari tulang kering, sehingga ekspos dalam waktu lama dapat berujung pada cedera overuse pada lutut.

 

Anterior Cruciate Ligament (ACL) atau disebut juga ligamen lutut anterior

Cedera ACL bisa terjadi pada pemain bulu tangkis meski olahraga ini bersifat non-contact. Studi membuktikan cedera ACL pada bulu tangkis adalah akibat dari beberapa kemungkinan mekanisme berikut:

  • Pada sisi kaki sebelah dari sisi tangan pemegang raket, akan rentan cedera pada posisi mendarat dengan satu kaki yang kurang sempurna setelah pukulan overhead, dan biasanya terjadi di sisi backhand dari lapangan.
  • Pada sisi kaki yang sama dengan sisi tangan pemegang raket, akan rentan cedera pada gerakan plant-and-cut pada saat side-step atau backward-step, terutama di sisi forehand dari lapangan.
  • Gerakan berputar/ berbalik merubah arah/ shifting weight/ pivoting.

 

Kejadian cedera meniskus ini dapat mencapai 10-25% dari total cedera yang terjadi di area lutut pada saat bulu tangkis. Biasanya robekan meniskus dikarenakan gerakan memutar yang tiba-tiba dari lutut pada saat footwork atau gerakan mendarat yang tidak sempurna. Gejalanya bisa berupa nyeri, bengkak, gerakan lutut yang terkunci (tidak bisa diluruskan setelah ditekuk), sensasi clicking di lutut. Cedera meniskus dapat disertai cedera penyerta lain seperti robekan ACL.

 

Jumper's knee atau radang tendon patella

  • Radang tendon patella atau jumper's knee adalah cedera yang dialami atlet dalam olahraga yang banyak melibatkan lompatan (bahkan prevalensinya dapat mencapai 45%).
  • Seperti yang diketahui bahwa kebiasaan aktivitas pembebanan tertentu (dalam hal ini, beban tarikan dan regangan) dari tiap pemain dapat menyebabkan perubahan karakter struktural dan mekanikal dari tendon dan otot.
  • Jumper's knee diakibatkan oleh penggunaan lutut berlebihan dari waktu ke waktu (overuse), bisa disebabkan gerakan yang tinggi risiko menyebabkan cedera overuse seperti melompat, lunges, sehingga menyebabkan peradangan pada tendon tempurung lutut.

 

Patellofemoral pain syndrome (PFPS) ditandai rasa nyeri di bagian bawah atau sekitar tempurung lutut (patella) yang menjadi semakin parah dengan posisi squat, duduk lama, atau menaiki tangga.

  • Terjadi karena berbagai kondisi seperti gerak biomekanik patella yang abnormal (akibat alignment tungkai yang kurang selaras, quadriceps atau iliotibial band yang ketat, disfungsi quadriceps, stabilitas kaki dan kontrol pinggul yang kurang baik), latihan yang kurang tepat (perubahan mendadak dari jarak berlari), perlengkapan yang kurang tepat (sepatu yang kurang baik) yang akhirnya menyebabkan pembebanan berlebihan pada sendi patellofemoral (antara patella dan tulang paha).
  • Beberapa faktor tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan perubahan berupa kerusakan dari tulang rawan di permukaan belakang dari patella serta peradangan di sekitarnya yang kemudian akan merangsang nosiseptor (saraf penghantar rangsangan nyeri).

 

  1. Cedera Betis dan Pergelangan Kaki

Gerakan eksplosif dan berulang pada bulu tangkis dapat membebani otot betis (gastrocnemius), dan dapat menimbulkan cedera pada tendon dan ligamen di sekitar ankle. Cedera yang sering terjadi adalah kram otot betis, muscle strain betis, ankle sprain/keseleo, dan cedera tendon Achilles. Ankle sprain/ keseleo merupakan cedera yang paling sering terjadi, terhitung sekitar 33 – 49% dari keseluruhan cedera pada anggota gerak bawah. Sprain yang terjadi dapat bervariasi derajatnya mulai dari peregangan, robek ligamen sebagian, dan robek total.Umumnya, gejala berupa nyeri terlokalisasi di ligamen yang cedera, bengkak, lebam, bahkan bila tidak tertangani dapat menimbulkan ketidakstabilan sendi ankle. Ankle sprain sering terjadi pada saat berhenti, berbalik, melompat, atau posisi mendarat yang tidak sempurna, terutama pada akhir latihan atau babak permainan, kemungkinan karena ada andil dari faktor kelelahan. Faktor kelelahan ini diduga menurunkan kapasitas otot penyeimbang ankle, menurunkan sense posisi sendi ankle, mengubah biomekanis dari tungkai serta menurunkan kontrol dinamis dari postur. Cedera tendon Achilles dapat diakibatkan berbagai faktor, antara lain usia, overweight, sepatu yang tidak tepat, riwayat cedera sebelumnya dan latihan berintensitas tinggi. Cedera ini juga diduga ada kaitannya dengan faktor kelelahan sehingga mengganggu fungsi neuromuskuler dan koordinasi dari otot betis.

 

Pencegahan

 

Permainan bulutangkis secara fisik menantang dan menuntut gerakan ekstremitas atas dan bawah berulang yang kompleks dengan variasi postur yang konstan dan dapat menimbulkan risiko tinggi cedera berlebihan pada sistem muskuloskeletal apendikular dan aksial. Oleh karena itu penting untuk melakukan pencegahan agar mengurangi risiko cedera. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah melakukan pemanasan yang benar dan cukup. Pemanasan dapat melemaskan dan mengkondisikan otot-otot agar dapat beradaptasi dengan intensitas permainan. Pemain bulutangkis profesional menghabiskan sekitar 30 menit total untuk pemanasan. Kegagalan untuk menghangatkan dan meregangkan badan sebelum berolahraga dapat menyebabkan otot tertarik. Pemanasan dan peregangan tidak hanya membantu mencegah tarikan otot, tetapi juga akan membantu meningkatkan kinerja saat bermain. Selanjutnya, penggunaan sepatu yang sesuai dan posisi grip raket yang tepat dapat mengurangi risiko cedera. Sepatu bulu tangkis secara khusus dibuat untuk meredam guncangan dan impact sehingga dapat mencegah cedera pada tempurung lutut dan tulang kering. Sepatu juga sebaiknya cukup ringan dengan cushion yang baik serta dapat melindungi ankle dan juga memiliki sol anti selip untuk mencegah jatuh karena terpeleset. Menggunakan raket bulutangkis yang salah adalah penyebab umum cedera. Memilih raket dengan kepala berat dapat menyebabkan cedera bahu pada pemula.

 

Cara memilih raket yang tepat:

  • Sesuaikan berat raket menurut level. Raket yang ringan akan lebih baik digunakan bagi pemula karena teknik bermain serta kekuatan otot tangan, lengan, dan bahu yang masih belum terlatih. Sedangkan raket yang berat memang dapat menciptakan energi pukulan yang lebih besar namun juga meningkatkan risiko cedera akibat teknik mengayun raket yang kurang baik.
  • Ukuran grip raket. Ukuran grip yang terlalu kecil menyebabkan pemain harus menggenggam lebih keras dan meningkatkan strain pada otot sekitar pergelangan tangan. Sedangkan grip yang terlalu besar juga membuat pemain tidak leluasa menggerakkan raket.
  • Tension dari senar dan jenis senar. Sesuaikan dengan level pemain. Ketegangan string yang lebih tinggi adalah untuk kontrol. Ketegangan string yang lebih rendah adalah untuk daya. Kebanyakan pemain profesional menggunakan ketegangan string di atas 30 lbs (ketegangan sangat tinggi). Untuk pemula sebaiknya memilih antara 20-26 lbs. Semakin tinggi ketegangan senar, semakin sedikit kekuatan yang dihasilkan dalam pukulan. Hal ini dapat menyebabkan kemungkinan cedera yang lebih tinggi saat mencoba melakukan lebih banyak kekuatan dalam memberi pukulan.

 

Latihan bulutangkis yang spesifik pada teknik dasar, ketahanan, koordinasi sendi, peregangan, dan penguatan otot dapat mengurangi risiko cedera. Latihan kekuatan secara teratur dapat menjaga fleksibilitas dan performa otot. Dan yang terakhir, Hindari menambah intensitas permainan secara berlebihan dan tiba-tiba. Peningkatan intensitas bermain harus disesuaikan secara perlahan untuk menyiapkan tubuh beradaptasi lebih baik terhadap perubahan ini. Bermain bulu tangkis tanpa memperhatikan kemampuan tubuh dengan volume dan intensitas latihan yang terlalu tinggi akan meningkatkan kemungkinan cedera overuse terutama pada lutut, pergelangan kaki. tulang kering, punggung, pergelangan tangan, bahu, dan siku.

 

Selain beberapa hal di atas, perlu juga kita perhatikan mengenai cara kita mengambil shuttlecock dengan raket. Memang kedengarannya adalah hal sepele untuk sekedar mengambil shuttlecock yang tergeletak di lantai. Padahal dalam sekali permainan, seorang pemain dapat memungut shuttlecock di lantai sekitar 45 – 50 kali. Bayangkan bila kita cenderung memakai cara konvensional, membungkukkan badan dan mengambil shuttlecock dengan tangan, betapa hal ini dapat membebani punggung berkali-kali dan meningkatkan risiko nyeri punggung serta menyebabkan pemain lebih mudah kelelahan. Akan sangat bermanfaat untuk mempelajari teknik yang benar untuk memungut shuttlecock yang tergeletak di lantai, antara lain dengan memanfaatkan raket yang kita pegang.

 

 

*Artikel ini ditulis oleh dr. Hendy Hidayat, SpOT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine. www.dokternicolaas.com, instagram : @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Peranan Fisioterapis Dalam Dunia Ortopedi

Artikel di bawah membahas mengenai fisioterapi (suatu layanan yang diberikan seorang fisioterapis / dengan kata lain membahas sekilas mengenai suatu cabang ilmu fisioterapi), bukan tentang pemberi layanan fisioterapi (fisioterapis).

Selengkapnya

Osteoartritis dan Asam Urat

Nyeri sendi merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh banyak orang dari berbagai populasi usia, khususnya populasi lanjut usia. Ada banyak penyebab nyeri sendi antara lain adalah disebabkan oleh peradangan pada sendi atau disebut juga artritis.

Selengkapnya