Skoliosis & Kyphosis

Dari sekian banyak penyakit pada tulang belakang manusia, deformitas atau kelainan bentuk merupakan salah satu penyakit yang sering diperbincangkan. Diagnosis skoliosis biasanya ditegakkan apabila dari foto X-ray tulang belakang proyeksi antero-posterior



Dari sekian banyak penyakit pada tulang belakang manusia, deformitas atau kelainan bentuk merupakan salah satu penyakit yang sering diperbincangkan. Pada artikel sebelumnya tentang skolisis, kami telah menjelaskan pengertian skoliosis, yaitu kelengkungan tulang belakang yang abnormal secara 3 dimensi yaitu ke samping, depan, dan rotasional, yang dapat terjadi pada beberapa area tulang belakang, yaitu tulang belakang daerah servikal (leher), torakal (dada), dan lumbal (pinggang). Diagnosis skoliosis biasanya ditegakkan apabila dari foto X-ray tulang belakang proyeksi antero-posterior didapatkan paling tidak kelainan kelengkungan tulang belakang sebesar 10 derajat.

Lain dengan skoliosis, kyphosis adalah kelengkungan tulang belakang (biasanya pada tulang belakang daerah atas) yang abnormal, sehingga tampak lebih melengkung ke depan atau bungkuk. Rentang normal kelengkungan tulang belakang bagian atas adalah 20 - 40 derajat melengkung ke depan, sehingga jika pengukuran kelengkungan menggunakan foto X-ray menunjukkan sudut lebih dari 40 derajat, maka sudah bisa didiagnosis kyphosis. 

Kebanyakan kasus skoliosis biasanya terdeteksi pada usia muda, sedangkan prevalensi kyphosis meningkat terutama pada golongan usia tua. Perkiraan kejadian kyphosis telah dilaporkan 20% - 40% untuk penduduk dewasa berusia di atas 60 tahun, dapat mempengaruhi kedua jenis kelamin, namun wanita memiliki peningkatan prevalensi terutama selama menopause. Terlepas dari kondisi yang terjadi pada penuaan (seperti penurunan kekuatan otot dan perubahan degeneratif tulang belakang) ada juga faktor lain yang berkontribusi pada peningkatan sudut kyphosis, yaitu fraktur/ patah tulang belakang yang terjadi pada tidak kurang dari 40% orang dengan kyphosis. Pasien dengan kyphosis akan mengeluhkan nyeri pada otot-otot tulang punggung (biasanya dapat dirasakan seperti sensasi kaku dan otot terasa lebih kencang), gangguan fungsi paru, dan penurunan keseimbangan yang kemudian dapat berakibat pada peningkatan risiko jatuh, patah tulang, dan penurunan kualitas hidup. 

Penanganan pada kyphosis kurang lebih sama dengan skoliosis, dimana derajat kelengkungan akan menentukan jenis penanganan baik non-operatif maupun operatif. Pada kyphosis, kelainan kelengkungan kurang dari 50 derajat masih memungkinkan pilihan terapi non-operatif yang terdiri dari observasi berkala, fisioterapi untuk memperbaiki postur, penggunaan brace khusus, serta terapi obat-obatan pereda nyeri. Kelengkungan kurang dari 30 derajat biasanya memiliki laju progresivitas yang sangat lambat. Pada kelengkungan lebih dari 50 derajat yang disertai dengan ketidakseimbangan tubuh, progresifitas kelengkungan yang semakin memberat dalam waktu singkat (biasanya dengan sudut kyphosis yang bahkan dapat melebihi 75 derajat), nyeri yang tidak membaik dengan terapi non-operatif, adanya penurunan (defisit) fungsi neurologis, dan penurunan fungsi jantung dan paru, maka opsi terbaik yang dapat dipertimbangkan pada penanganan kyphosis adalah dengan operasi. 

Tujuan dari penanganan operatif pada kyphosis adalah mengembalikan kelengkungan ke rentang normal, mencegah kelengkungan menjadi lebih memburuk, mengurangi nyeri serta memperbaiki gejala neurologis. Ada bermacam-macam jenis operasi yang biasanya ditujukan untuk penanganan kyphosis seperti osteotomi (pemotongan tulang untuk mengoreksi deformitas kelengkungan pada tulang belakang) yang dapat dilanjutkan dengan pemasangan instrumentasi atau implan yang bertujuan untuk menstabilisasi tulang belakang yang sudah dikoreksi sehingga didapatkan penyembuhan tulang berupa fusi dalam posisi yang diinginkan. Segera konsultasikan keluhan terkait kelainan bentuk pada tulang belakang ke dokter orthopaedi pilihan anda.

*Artikel ini ditulis oleh dr. Dananjaya Putramega, SpOT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine. www.dokternicolaas.com, instagram : @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Terapi Fisik pada Penderita Osteoartritis Lutut

Beberapa gejala utama dari osteoartritis lutut adalah nyeri pada sendi, kelemahan otot, ketidakstabilan sendi, kekakuan singkat di pagi hari, krepitasi, dan keterbatasan fungsional. Terapi fisik bermanfaat bagi pasien penderita osteoartritis. Meskipun ter

Selengkapnya

Memilih Kasur yang Baik untuk Kesehatan Tulang Belakang

Energi yang kita dihabiskan untuk kegiatan sehari-hari dipulihkan saat kita tidur, sehingga performa tubuh bisa tetap optimal di keesokan harinya. Namun, gangguan tidur sekarang ini seringkali dijumpai pada 15-30% orang dewasa. Bentuk gangguan tidur dapat

Selengkapnya

Sekilas tentang Plantar Fasciitis

Plantar fasciitis adalah penyakit yang diakibatkan oleh peradangan pada plantar fascia, yaitu jaringan tebal yang membentang di sepanjang bagian bawah kaki, menghubungkan tulang tumit ke jari-jari kaki.

Selengkapnya