Tergiur Obat Peninggi Badan, Ini Kata Dokter Spesialis

Iklan peninggi badan saat ini banyak berseliweran di media sosial. Biasanya iklan tersebut memberikan janji tubuh akan tinggi dalam beberapa minggu. Nah kira-kira bagaimana ya fakta sebenarnya?



Liputan6.com, Jakarta - Iklan peninggi badan saat ini banyak berseliweran di media sosial. Biasanya iklan tersebut memberikan janji tubuh akan tinggi dalam beberapa minggu. Nah kira-kira bagaimana ya fakta sebenarnya, benarkah tinggi badan dapat bertambah dengan begitu cepat dalam waktu tertentu?

Perlu diketahui, sebenarnya dalam proses pertumbuhan tubuh manusia, tinggi badan bertambah sejak masih dalam kandungan. Tinggi badan bertambah sampai lempeng pertumbuhan pada tulang menutup. Hal itu ditandai dengan bersatunya bagian ujung dari tulang panjang dengan bagian tengahnya.

Pada anak perempuan menutupnya lempeng pertumbuhan ini biasanya terjadi pada usia sekitar 16 tahun. Sementara laki-laki pertumbuhannya lebih lambat dan terjadi Ketika mencapai usia 19 tahun. Dan patut disadari bahwa proses pertumbuhan itu juga sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan seperti nutrisi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan manusia mencapai 60-80 persen. Pengaruh genetik ini bersifat poligenik sehingga seorang anak biasanya akan mencapai tinggi badan yang mirip dengan orang tuanya, namun akan bervariasi antar saudaranya.

Lantaran dipengaruhi genetik dari orang tua, potensi tinggi badan seorang anak pada akhirnya bisa diperkirakan. Untuk anak perempuan misalnya, rerata dari tinggi badan ayah dikurangi 13 cm ditambah dengan tinggi badan ibu.

Sementara tinggi badan anak laki-laki merupakan rerata dari tinggi badan ibu ditambah 13 cm ditambah tinggi badan ayah. Begitu besarnya pengaruh genetik ini dapat pula terlihat dari kejadian achondroplasia atau dwarfisme atau tubuh kerdil hanya dikarenakan oleh mutasi genetik gen FGFR3.

Di samping 60-80 persen pertumbuhan tinggi yang dipengaruhi genetik, 20-40 persen sisanya dipengaruhi faktor lingkungan, terutama asupan nutrisi. Ya, nutrisi berpengaruh sejak pertumbuhan janin di dalam rahim.

Presentasi pengaruh nutrisi tidak akan membuat tinggi badan melampaui cetak biru tubuh. Namun dapat membantu tubuh mencapai potensi maksimal, dari tinggi badan yang sudah terkoding dalam cetak biru genetik.

Begitu pula dengan asupan nutrisi yang kurang atau kondisi malnutrisi, maka potensi pertumbuhan tinggi badan akan sangat terhambat. Oleh karena itu dibutuhkan asupan nutrisi yang membantu proses pertumbuhan, seperti protein, kalsium dan vitamin D yang bisa didapatkan dari daging, ayam, ikan, susu, telur, buah, kacang, kedelai dan sayur-sayuran. Kondisi lingkungan seperti paparan rokok atau merokok juga terbukti berpengaruh dalam proses pertumbuhan tinggi badan.

Menyoal pertumbuhan tubuh, Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K), dr. Dananjaya Putramega, SpOT, dan dr. Imelda Lumban Gaol,SpOT yang tergabung dalam Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sport Medicine menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor umum yang mempengaruhi tinggi badan, yaitu:

1. Genetik

Sekitar 60-80 persen dari tinggi badan ditentukan oleh genetik yang diturunkan, dan sisanya 20-40 persen dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama nutrisi

2. Berat Badan

Berat badan yang dimaksud adalah berat badan ketika lahir. Kondisi tersebut menjadi salah satu prediktor kuat yang mempengaruhi tinggi badan

3. Bayi Lahir Prematur

Bayi yang lahir prematur cenderung bertumbuh menjadi dewasa yang lebih pendek dari orang normal

4. Hormon

Hormon mempengaruhi pertumbuhan selama hidup kita, dan paling besar pengaruhnya saat masa pubertas

5. Nutrisi

Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling besar pengaruhnya terhadap tinggi seseorang. Nutrisi paling penting untuk tinggi adalah protein. Selain itu, mineral, seperti kalsium, vitamin A dan vitamin D juga mempengaruhi tinggi seseorang. Sehingga, sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sebelum usia menutupnya lempeng pertumbuhan

6. Lokasi Geografis

Lokasi geografis sangat berpengaruh terhadap etnis yang akhirnya mempengaruhi tinggi seseorang. Selain itu, lokasi juga mempengaruhi paparan akan sinar matahari dan akses akan makanan yang sehat, kemiskinan, dan kesehatan secara keseluruhan.

Akan tetapi pendapat tersebut mulai ditinggalkan. Kalau melihat orang Jepang dan Korea misalnya, para leluhurnya memiliki tubuh yang cenderung pendek. Namun sekarang berbeda karena mereka mendapatkan asupan gizi yang baik hingga mempengaruhi pertumbuhan yang kian membaik pula.

Pada populasi dengan genetik yang sama, misalnya pada etnis yang sama ataupun antar saudara, tinggi nya juga akan berbeda. Ini dipengaruhi oleh efek lingkungan. Jika lingkungan bisa memaksimalkan efek potensial genetiknya, maka tinggi yang dihasilkan bisa lebih besar dari populasi normalnya.

7. Pertumbuhan Terhambat

Adanya pertumbuhan yang terhambat, bisa dikarenakan gangguan makan, penyakit menahun, gangguan pada lempeng pertumbuhan, gangguan hormonal, ataupun hal lain, bisa menyebabkan orang tersebut tumbuh lebih pendek dari yang seharusnya

 

Klaim Tinggi Badan karena Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik seperti olahraga yang disebut dapat menambah tinggi badan seperti melompat, panjat tebing, basket atau bahkan stretching tidak didukung secara kuat oleh penelitian.

Memang benar pemain basket profesional rata-rata tingginya diatas 190 cm, karena itulah mereka menjadi pemain basket profesional. Namun bukan berarti dengan bermain basket, atlet basket profesional tersebut menjadi tinggi.

Secara umum aktivitas tersebut dapat menstimulasi pertumbuhan massa tulang. Dengan didukung nutrisi optimal, hasilnya akan memaksimalkan potensi pertumbuhan tinggi badan manusia.

Ada juga pendapat lain bahwa aktivitas tersebut terkadang diklaim dapat meningkatkan tinggi badan karena tubuh mengalami modifikasi, tepatnya pada bantalan sendi tulang belakang yang bertambah mencapai 1-2 cm. Hal inilah yang kadang dijadikan trik oleh pengobatan alternatif yang menawarkan penambahan tinggi badan dengan spontan.

Padahal tinggi badan bertambah karena perubahan pada bantalan sendi ini. Hal itulah yang pada akhirnya akan berkurang kembali seperti semula dikarenakan gravitasi. Lalu apakah ada obat untuk memaksimalkan tinggi badan?

Jawabannya ada! Selama lempeng pertumbuhan belum menutup, pemberian hormon pertumbuhan diharapkan dapat menstimulasi perkembangan sel-sel pada lempeng pertumbuhan seperti pemberian growth hormone atau dengan pemberian sex hormone seperti testosterone.

Namun secara medis, pemberian hormon diindikasikan untuk anak-anak dengan kondisi medis kekurangan hormon pertumbuhan, dan tidak dianjurkan tanpa indikasi yang benar. Hal itu karena hormon pertumbuhan secara teoretis berinteraksi secara sinergis terhadap tinggi badan dan efeknya tidak bisa diprediksi.

Selain itu, mengonsumsi obat yang mengandung hormon pertumbuhan buatan ternyata juga dapat menghambat produksi kelenjar dan membuat kelenjar mengecil.

Berkaca dari penjelasan di atas, maka secara teoritis kondisi pertumbuhan tinggi badan tidak akan bertambah setelah lempeng pertumbuhan menutup. Oleh karena itu dibutuhkan aktivitas fisik yang baik dan asupan nutrisi optimal merupakan opsi utama untuk mencapai potensi tinggi maksimal dari tubuh.

 

Tinggi Badan Bertambah Dimulai dari Sini

Nicolaas menjelaskan, umumnya pasien yang datang untuk berkonsultasi terkait meninggikan badan adalah anak-anak di usia 10 tahun. Ketika berkonsultasi, Nicolaas lebih dulu memeriksa bone age atau usia tulang lewat pembuatan foto  rontgen tangan kiri.

“Tingkat kematangan lempeng pertumbuhan juga diukur dengan estimasi usia tulang. Ada beberapa cara menentukan estimasi usia tulang, salah satunya adalah dengan pemeriksaan rontgen jari-jari tangan,” jelas Nicolaas.

Berdasarkan data yang dimiliki itu, Nicolaas pun bisa melihat usia tulang lalu dibandingkan dengan usia aslinya. Kemudian dapat perkiraan maturitas atau kematangan lempeng pertumbuhan.

Perkiraan itu didapatkan dari penghitungan tertentu yang dapat diprediksi potensi tinggi (estimated high) si anak.

“Berdasarkan hasil ini, kami beri nasehat, monitoring asupan gizinya, dan latihan aktivitas, serta memberikan vitamin. Kondisi itu akan kami monitoring setiap empat bulan. Biasanya anak-anak mengikuti nasehat yang kami berikan, karena melihat tinggi badan dokternya.” kata Nicolaas yang menjelaskan bahwa rata-rata yang datang kepadanya ingin memiliki tinggi badan seperti dokter Nicolaas yang mencapai 190 cm.

 

 

Artikel ini bekerjasama dengan Nicolaas Budhiparama, MD.,PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthoplasty & Sports Medicine.

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Sembuhkan Patah Tulang, Pilih ke Dokter atau Alternatif Patah Tulang?

Di Indonesia, pengobatan alternatif atau tradisional masih menjadi pilihan masyarakat untuk menanggulangi suatu penyakit atau penderitaan baik yang diakibatkan kecelakaan maupun sebab lainnya. Dalam pengobatan patah tulang misalnya, masih ditemukan sebagi

Selengkapnya

Benar Gak Sih Olahraga Ekstrim Bisa Perkuat Tulang?

Olahraga ekstrim semakin digemari masyarakat modern saat ini. Tak hanya menjadi hobi saja lho, bahkan sudah menjadi profesi dan ditekuni para atlet. Padahal resiko yang ditanggung sangat besar dan tidak main-main.

Selengkapnya

Ini Fakta Tentang Ligamen, Penyakit yang Selalu Menghantui Para Atlet

Bagi seorang atlet, cedera ligamen bisa menjadi momok yang menakutkan. Bisa dibilang cedera itu bisa mempengaruhi karier seorang atlet. Mulai dari atlet sepakbola, badminton, basket atau pelari

Selengkapnya