Melihat Lebih Jauh Peran Dokter Bagi Para Atlet Indonesia Berprestasi

Para atlet tak pernah bekerja sendiri. Ada peran dokter yang punya andil tak kalah penting, untuk membuat mereka selalu berprestasi.



Siapa yang tak bangga saat melihat atlet Indonesia berprestasi, terlebih dalam sebuah kejuaraan bergengsi dunia? Senyum mengembang yang kadang juga diiringi dengan tangis haru, kerap mewarnai wajah-wajah para atlet yang berkalung medali emas kala naik di atas podium. Bagaimanapun, kemenangan para atlet dalam berbagai kompetisi, adalah kebanggaan kita semua sebagai warga Indonesia.

Meski begitu, tahukah kamu jika untuk bisa mengukir prestasi dengan gemilang, para atlet tak pernah bekerja sendiri. Ada peran dokter yang punya andil tak kalah penting, untuk membuat mereka selalu berprestasi. Lantas, bagaimana sebenarnya peran dokter dalam menangani para atlet di Indonesia?

Dihubungi lewat saluran telepon, Tim Fimela bertanya langsung kepada Dokter PP PBSI  dr. Michael Triangto, Sp.KO untuk mengetahui peran lebih jauh seorang dokter bagi para atlet Indonesia berprestasi, dalam hal ini atlet bulu tangkis. Dr. Michael menjelaskan jika secara umum peran dokter olahraga bagi atlet tak sekadar mengobati, tetapi lebih bagaimana menjaga para atlet dari cedera, agar mereka terus berprestasi. 

Ia juga menyebutkan, jika selalu bekerja sama dengan Nicolaas C. Budhiparama, MD., PhD.,SpOT (K), FICS atau yang biasa disapa Prof Nicolaas Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi yang sudah berkecimpung di dunia kedokteran selama 26 tahun.

“Saya sebagai dokter spesialis olahraga selalu bekerja sama Prof Nico, sebagai ahli ortopedi untuk menangani para atlet. Karena kedokteran olahraga jadi bidang saya, maka saya bertanggung jawab menangani para atlet dari hulu ke hilir,” ungkap dr. Michael.

 

Peran Dokter Olahraga Bagi Calon Atlet

Lebih lanjut, dr. Michael menjelaskan jika perannya sebagai dokter olahraga jauh dilakukan sebelum seorang atlet masuk pelatnas. Sejak awal mau menjadi seorang atlet, biasanya orang akan membawa anaknya untuk konsultasi ke dr. Michael. Tak jarang, ada atlet yang membawa anaknya kepada dr. Michael, agar bisa menjadi atlet profesional seperti dirinya.

“Dok, anak saya bisa nggak menjadi atlet seperti saya?” ungkap dr. Michael menirukan pasiennya saat berkonsultasi. Setelah itu, dr. Michael biasanya akan memberikan penilaian dan pertimbangan, agar hal tersebut bisa menjadi pilihan yang tepat bagi sang anak, bukan sekadar keinginan orang tua. Dengan begitu, anak bisa berprestasi kelak saat sudah menjadi atlet profesional.

“Setelah itu lihat kondisi fisiknya. Misalnya, ada anak pendek, masa mau menjadi atlet bulu tangkis? Karena bagaimanapun ada syarat tinggi badan tertentu untuk menjadi seorang atlet bulu tangkis. Akan tetapi hal tersebut tak menjadi penghambat utama, semisal dia sangat berbakat. Sebut saja Mia Audina, secara fisik ia tak setinggi Susi Susanti, tetapi ia sama-sama mendapatkan medali. Hubungannya apa? Untuk mengantisipasi cedera. Saya akan lihat anak ini, bagaimana posturnya, kita tak bisa melarang orang lain, meskipun jadinya mungkin tak 100%. Namun, kita mau memfasilitasi, dengan catatan tetap akan kita ingatkan bila mungkin hasilnya kurang maksimal,” imbuh dr. Michael.

Supaya tak sampai cedera, dr. Michael pun akan berkonsultasi dengan Prof. Nico. “Kalau tak mampu saya tangani, maka akan saya kirim ke Prof. Nico. Atau, saya berikan edukasi kepada calon atlet tersebut, kamu harus begini-begini, tetapi kalau masih terjadi cedera, kita konsultasikan ke Prof. Nicolaas,” sambungnya.

 

Peran Dokter Olahraga Bagi Atlet saat Berada di Pelatnas

Sementara saat berada di Pelatnas Cipayung, peran dr. Michael juga tak kalah penting. Menurutnya, di masa sekarang tak bisa menunggu atlet berprestasi lahir seperti dulu. Sebaliknya, prinsip itu pun diubah dengan bagaimana menciptakan atlet berprestasi. Dokter yang sudah berpengalaman menangani para atlet di Pelatnas Cipayung selama 26 tahun ini pun menegaskan, untuk membuat atlet berprestasi tak cukup hanya mengandalkan pelatih.

“Supaya prestasi atlet dapat diraih secara berkesinambungan, perlu peran bersama antara pelatih fisik, pelatih teknik, ahli fisioterapi, dokter beserta jajaran di bawahnya. Merekalah yang secara bersama-sama menjaga kelangsungan tercetaknya para atlet berprestasi. Jadi, kalau sudah di Pelatnas, sudah bukan melihat postur fisik lagi, karena itu sudah dilakukan di tahap awal,” jelas dr. Michael.

Walau begitu, ia juga tak menampik jika dokter di Pelatnas kerap dianggap hanya menangani batuk pilek. Padahal itu salah besar. Bahkan, tak sedikit atlet baru di Pelatnas yang enggan ke klinik karena ia merasa sedang tak sakit.

“Kalau kamu hanya menunggu sakit, itu bukan tugas saya. Tugas saya bukan hanya membuat kamu sembuh, tetapi berprestasi. Jadi, saya akan menjaga postur tubuh hingga titik lemah yang bisa menghambat prestasi sebagai seorang atlet. Kita akan bekerja sama dengan pelatih fisik untuk memperkuat titik lemah tadi,” ungkapnya.

Selain itu, dr. Michael juga menambahkan jika ia juga akan bekerja sama dengan pelatih teknis juga. Katakanlah ada keluhan pada bahu, dr. Michael akan kerja sama dengan pelatih fisik untuk memperkuat bahu atlet, karena sudah di diagnosa cedera olehnya, dan pelatih teknik kemudian ia minta untuk mengurangi gerakan bola di atas. Sebab, hal tersebut bisa membuat bahu atlet yang cedera tersebut bekerja lebih keras, dan berisiko menimbulkan cedera baru

“Saya juga akan meminta jajaran di bawah saya, seperti perawat untuk melakukan fisioterapi. Namun jika hal itu masih belum cukup, saya akan konsultasikan ke Prof. Nico,” kata dr. Michael. 

 

Dokter Olahraga Juga Bertugas Mengatur Pola Makan Hingga Motivator Bagi Para Atlet

Demi membuat atlet tetap prima, dokter olahraga di Pelatnas juga tak ketinggalan mengatur asupan para atlet. Hal ini karena tubuh disusun dari otot dan lemak, yang mana keduanya berhubungan dengan makanan. Itulah kenapa mengatur pola makan para atlet di Pelatnas juga menjadi tanggung jawab dr. Michael.

“Tak hanya makanan dan minuman, kita perlu edukasi para atlet dan itu perlu peran dokter, untuk memotivasi dan edukasi, tak cukup pelatih. Jadi, kamu tak cukup jadi atlet medioker yang hanya juara 4 atau 5. Saya ingin atlet saya menjadi juara 1, meskipun dia cedera, ia harus tetap berprestasi,” tegas dr. Michael.

Tak hanya itu, dr. Michael juga menjelaskan tak ada atlet yang bebas cedera. Selain itu, cedera juga bisa datang kembali. Di situlah pentingnya kerjasama antara dokter olahraga dan ortopedi. Mereka berdiskusi bagaimana memberikan yang terbaik bagi atlet, agar tetap berprestasi.  Terlebih perjalanan seorang atlet meraih medali emas, ada lika-likunya. 

“Kalau atlet baru biasanya belum pernah meraih medali emas, di situlah kita harus support, tak hanya mencegahnya dari cedera atau menutup titik lemah, tapi juga harus cek psikologis, gizinya, jadi perannya dari ujung ke ujung. Lantas, bukan berarti kita merasa berperan sepenuhnya. Setiap individu yang terkait atlet tadi bekerja secara optimal dan maksimal, demi membuat sang atlet berprestasi secara berkesinambungan,” tambah dr. Michael.

Ia kemudian menceritakan saat mau berangkat olimpiade, ada salah satu atletnya yang mengalami cedera. Tanpa sepengetahuannya, atlet tersebut berobat ke salah satu dokter, dan dapat obat doping. Atletnya tak tahu, sehingga tim dr. Michael harus mensterilkannya lebih dulu, karena bisa terkena larangan ke olimpiade jika sampai ketahuan.

“Andai saja dia bilang, saya akan kasih obat atau konsul ke Prof. Nico. Apakah Prof. Nico tahu obat doping, umumnya dia tidak tahu, jadi diserahkan ke saya. Di situlah terlihat komunikasi antara saya dan Prof. Nico, itu harus erat. Kalau masing-masing egois, atlet akan cedera terus. Karena pengetahuan orang ada batasnya. Bukannya berprestasi, malah bisa membuat petaka. Pada akhirnya atlet tersebut menjadi juara, dapat medali emas, berkat kerjasama kita semua, bagaimana suatu celah yang bisa membuat kita terperosok, bisa teratasi dengan baik bekat peran berbagai pihak,” jelas dr. Michael. 

 

Seberapa Penting Operasi Bagi Para Atlet yang Alami Cedera?

Lebih lanjut, dr. Michael yang masuk ke Pelatnas sejak 1994, mengungkapkan jika tim dokter di sana dipilih oleh pengurus. Menariknya, dr. Michael ternyata hanya bersama satu asisten sebagai tim dokter di Pelatnas Cipayung. Meski begitu, mereka tak bekerja berdua, karena biasanya akan dibantu oleh Prof. Nico sebagai orthopedic dari tim PBSI dan juga para dokter dari luar. Dari dokter radiologi, dokter kandungan, dokter penyakit dalam. Mereka semua akan membantu saat atlet melakukan perawatan di rumah sakit. Selain itu, ada suster, fisioterapis, hingga pernah ada ahli akupuntur. Itulah yang membuatnya selalu yakin, jika prestasi yang diraih atlet berkat peran banyak pihak di belakangnya.

Selain itu, dr. Michael juga bicara tentang operasi bagi para atlet yang mengalami cedera. Menurutnya, operasi itu merupakan tahap akhir. Perlu memperkuat otot ligamen terlebih dulu, misalnya dengan menggunakan decker. Sayangnya, ada beberapa atlet kadang yang enggan menggunakan decker, karena ia khawatir terlihat cedera, dan berisiko membuatnya dikeluarkan dari pelatnas. Padahal, hal tersebut bisa dibicarakan baik-baik. Di sinilah pentingnya peran dokter olahraga, karena selain atlet juga perlu memberikan edukasi, kepada pelatih hingga pengurus.

“Para atlet yang cedera akan kita tangani secara konvensional lebih dulu, kita redakan peradangannya, berikan obat, berikan decker, berikan fisioterapi, agar kondisi fisiknya tak drop. Semisal suatu saat dia butuh operasi, kondisi fisiknya tidak nol, dan tak akan susah mengembalikan ke posisi semula. Hasil perkembangannya pun terus kita infokan ke Prof. Nico, jika memang sudah membaik, dan tak perlu operasi, atlet itu pun bisa kembali bertanding. Namun, jika memang perlu operasi, saya akan konsultasikan ke Prof. Nico, karena itu di luar kompetensi saya,” pungkasnya.

Adapun pendapat dari Nicolaas Budhiparama MD., PhD., SpOT (K), FICS yang juga adalah mantan atlet nasional dalam hal penanganan atlet-atlet, yaitu tindakan operasi adalah jalan terakhir. Oleh karena banyak atlet yang setelah dioperasi malah tidak dapat kembali ke top performance dan akhirnya dikeluarkan dari Pelatnas. Makanya sangat dianjurkan untuk memilih dokter yang tepat. Pesan Nicolaas, agar dalam mengambil keputusan untuk mengoperasi atlet harus dipikirkan matang-matang. Supaya jangan sampai setelah operasi sang atlet tidak dapat kembali beraksi seperti semula dan akhirnya kehilangan mata pencahariannya. 

Didorong oleh kecintaannya atas olahraga, sebagai mantan atlet Nicolaas ditengah kesibukannya selalu berusaha dari sisi lapangan untuk mendukung dan memberi motivasi serta semangat kepada atlet, juga kepercayaan diri pada atlet dengan cedera yang telah diobati agar tetap dapat mencapai performa yang tinggi.

(tmi)

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Sering Nyeri Pada Tulang, Bisa Jadi Itu Pengapuran

Pengapuran sendi sebenarnya bukan “penyakit,” melainkan kondisi yang disebabkan oleh penuaan secara natural. Serupa dengan rambut kepala yang lambat laun memudar menjadi uban, demikian pula sendi perlahan-lahan menjadi aus dan mengalami perkapuran.

Selengkapnya

Apakah Nyeri Punggung Bawah Bisa Disembuhkan?

Hampir 50-80% orang dewasa akan mengalami nyeri punggung bawah. Nyeri yang dialami bervariasi, mulai dari terasa pegal-pegal di otot, nyeri yang menjalar ke kaki, terasa terbakar, kesemutan, atau terasa seperti ditusuk-tusuk.

Selengkapnya