Osteoartritis dan Asam Urat

Nyeri sendi merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh banyak orang dari berbagai populasi usia, khususnya populasi lanjut usia. Ada banyak penyebab nyeri sendi antara lain adalah disebabkan oleh peradangan pada sendi atau disebut juga artritis.



Nyeri sendi merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh banyak orang dari berbagai populasi usia, khususnya populasi lanjut usia. Ada banyak penyebab nyeri sendi antara lain adalah disebabkan oleh peradangan pada sendi atau disebut juga arthritis. Lebih dari 100 jenis arthritis yang berbeda-beda telah ditemukan hingga saat ini. Di antaranya yang cukup sering kita dengar adalah osteoarthritis dan asam urat (gout arthritis). Apakah perbedaan antara kedua penyakit tersebut? Mari kita simak ulasan di bawah ini

 

Osteoarthritis

Osteoarthritis (OA), atau yang lebih dikenal oleh orang awam dengan istilah “pengapuran sendi”, adalah kondisi yang sering terjadi ketika sendi tulang rawan mulai menipis dan menyebabkan gesekan yang menimbulkan nyeri. Penyakit ini ternyata dialami oleh ratusan juta orang di seluruh dunia dan Kementerian Kesehatan RI menyatakan prevalensi OA di Indonesia adalah sebesar 30 persen. OA kebanyakan diderita oleh orang yang berusia 60 tahun ke atas, walaupun pada saat ini sering juga ditemukan pada usia yang lebih muda seiring dengan meningkatnya aktivitas maupun olahraga dengan impact yang besar, meningkatnya prevalensi cedera sendi, dan meningkatnya prevalensi obesitas pada pasien berusia muda. OA yang menyerang di usia muda lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Biasanya disebabkan karena faktor trauma akibat cedera. Sedangkan pada kalangan usia lanjut, wanita lebih banyak yang terserang OA.

 

OA sejatinya merupakan penyakit yang mengenai keseluruhan komponen sendi yaitu tulang rawan sendi, tulang di sekitar sendi, lapisan dalam ruang sendi, kapsul sendi, meniskus, ligamen, dan otot sekitar sendi. Proses terjadinya OA meliputi faktor mekanis, peradangan, serta metabolik yang pada akhirnya mengarah pada kerusakan struktural dan kegagalan pada sendi sinovial. Penyakit ini utamanya ditandai oleh kerusakan yang berkembang seiring dengan berjalannya waktu pada tulang rawan sendi yang berfungsi sebagai bantalan pelindung tulang sendi. Kerusakan ini tidak hanya murni suatu proses penuaan yang pasif berjalan seiring dengan berjalannya waktu (proses wear and tear) namun juga merupakan perubahan yang aktif dan dinamis akibat ketidakseimbangan antara proses perbaikan dan kerusakan jaringan sendi. Kerusakan ini kemudian menyebabkan tulang rawan menipis sehingga terjadi gesekan langsung antar tulang persendian. Untuk menghadapi proses kerusakan ini, sebetulnya tulang rawan mencoba untuk meningkatkan proses perbaikan sel. Namun dalam proses ini tulang rawan menghasilkan produk buangan dari hasil perombakan jaringan dan memacu terjadinya proses peradangan dalam sendi yang pada akhirnya menjadi lingkaran setan yang berjalan terus-menerus. Peradangan dan gesekan yang terjadi dalam jangka waktu lama inilah (disertai dengan faktor lain seperti beban sendi berlebih dan kinematika sendi yang tidak normal) yang dapat menyebabkan kerusakan lain di sendi seperti terbentuknya kapur tulang baru (osteofit), penyempitan sendi, dan kista pada tulang. Penuaan adalah salah satu faktor utama yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya OA.  Namun keduanya bukanlah dua hal yang sepenuhnya sama dan merupakan dua proses yang dapat saling berjalan sendiri. Faktor-faktor risiko lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya OA antara lain adalah obesitas, aktivitas beban berat, cedera sendi, gaya hidup sehari-hari, genetik, deformitas tulang, jenis kelamin perempuan, serta etnis tertenu.

 

Pada dasarnya OA dapat terjadi pada semua sendi di tubuh manusia, namun paling sering terjadi di sendi-sendi yang berfungsi untuk menopang berat badan, seperti sendi-sendi tulang punggung (spine), sendi pinggul, dan terutama sendi lutut. Ketika OA terjadi, muncul rasa nyeri, kaku, bunyi gemeretak (krepitasi) pada sendi yang akhirnya berujung kepada ketidakmampuan pasien untuk bebas beraktivitas, seperti berjalan, naik-turun tangga, jongkok, sholat, mengangkat beban berlebihan, dan kegiatan fisik sehari-hari lainnya.

 

Nyeri biasa dirasakan pada saat sendi yang terkait dipakai untuk beraktivitas dan mereda bila diistirahatkan. Sedangkan nyeri pada saat istirahat maupun saat malam hari merupakan gejala pada OA dengan derajat keparahan yang lebih lanjut.  Kekakuan sendi umumnya terjadi di pagi hari setelah bangun tidur dengan durasi < 30 menit. Kekakuan juga bisa dirasakan saat memulai menggerakan sendi dari posisi diam atau istirahat. Dapat juga terjadi pembengkakan pada sendi tanpa disertai kemerahan atau rasa panas. Biasanya OA hanya mengenai satu sisi sendi, tetapi dapat juga menyerang kedua sisi sendi (bilateral) bahkan ada juga sub-tipe yang lebih jarang yang mengenai beberapa sendi sekaligus (multiple joint atau polyarticular OA). Pada tahap lanjut, OA dapat menyebabkan deformitas pada sendi misalnya pada sendi lutut menjadi berbentuk O atau X.

 

Diagnosis OA biasanya ditegakkan dari gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan foto polos sendi (roentgen). Ada beberapa penunjang diagnostik tambahan lain yang juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui struktur pada sendi dan sekitarnya yang patologis (misalnya MRI dan artroskopi) dan untuk menyingkirkan diagnosis banding lain (pemeriksaan laboratorium seperti tes darah penanda infeksi dan analisis cairan sendi).

 

Pengobatan pada OA dapat dilakukan secara nonbedah dan bedah. Pengobatan biasa dimulai secara non bedah dimulai dengan perubahan gaya hidup, terapi fisik (fisioterapi), alat bantu, dan obat-obatan. Berolahraga dan mencapai berat badan yang ideal merupakan cara yang mendasar namun sangat bermanfaat untuk penatalaksanaan OA. Selain itu, hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan fisioterapi rutin guna memperkuat otot-otot di sekitar sendi, meningkatkan jangkauan gerak, dan mengurangi nyeri. Untuk mengatasi nyeri dapat dilakukan pemberian obat-obatan, injeksi sendi, ataupun pemberian alat penyangga atau alat bantu lain yang sesuai sendi yang terkena OA untuk membantu pasien beraktivitas. Namun perlu diingat, tulang rawan sendi tidak dapat tumbuh kembali dengan sendirinya dengan terapi obat dan fisik yang tersedia. Jika metode pengobatan non bedah sudah tidak efektif meredakan nyeri dan meringankan keluhan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka pengobatan dilanjutkan secara bedah. Terdapat banyak jenis pembedahan yang dapat dilakukan sesuai dengan keluhan (nyeri dan fungsi sendi), sendi yang terkena, tingkat keparahan OA, dan faktor lain seperti usia, level aktivitas fisik, ataupun penyakit penyerta yang dimiliki pasien. Salah satu operasi yang sering kita dengar adalah operasi penggantian sendi. Pada operasi ini, bagian sendi yang rusak akan dibuang dan dilapisi atau diganti dengan implan. Bahan material yang digunakan memiliki beberapa kriteria antara lain adalah cocok dengan tubuh (biokompatibel), tidak beracun maupun menyebabkan peradangan melebihi level toleransi tubuh, sifat mekanis serta ketahanan yang sesuai. Contoh bahan material yang digunakan misalnya pada penggantian sendi pinggul dan lutut yang memakai bahan dari golongan metal (misal stainless steel, cobalt-chromium alloy, titanium alloy) maupun golongan ceramic dan bantalan artikulasi (liner) berbahan plastik khusus (polyethylene). Tujuan dari prosedur penggantian sendi ini  adalah untuk membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan fungsi sendi agar dapat bekerja lebih normal sehingga pada akhirnya kualitas hidup pasien menjadi lebih baik.

 

 

Asam Urat (Gout Arthritis)

Penyakit asam urat atau gout adalah salah satu jenis radang sendi yang terjadi karena adanya penumpukan kristal asam urat. Gout lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan pada usia > 40 tahun. Insidensi gout secara global meningkat bertahap diduga karena kebiasan diet yang tidak baik, terutama fast food, kurangnya aktivitas fisik, dan peningkatan insidensi obesitas serta sindrom metabolik. Gout biasa menyerang satu sendi dan sendi yang paling sering terkena adalah sendi pangkal jempol kaki. Sendi lain yang juga dapat terkena antara lain adalah sendi-sendi kaki, pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, buku jari, dan jari tangan. Sendi lain yang lebih jarang terkena adalah pinggul dan bahu.

 

Tubuh menghasilkan asam urat ketika memecah purin, yakni zat yang ditemukan secara alami di dalam tubuh. Purin juga banyak ditemukan pada makanan tertentu terutama yang berasal dari hewan seperti daging merah (misalnya steak), jeroan, dan makanan laut. Makanan lain juga dapat meningkatkan kadar asam urat seperti minuman beralkohol (terutama bir) dan makanan serta minuman yang dimaniskan dengan gula buah (fruktosa) seperti soda, es krim, permen. Apabila kita mengonsumsi makanan dan minuman yang tinggi akan purin tersebut maka secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh. Selain dari asupan diet, faktor lain yang juga dapat meningkatkan asam urat adalah faktor usia, post menopause, kegemukan, berbagai penyakit seperti kelainan bawaan dari enzim untuk metabolisme purin juga penyakit yang dapat meningkatkan proses pergantian sel seperti kanker, juga kemoterapi, dan kerusakan jaringan.

 

Pada kondisi normal, asam urat larut dalam darah dan dikeluarkan melalui urine. Akan tetapi pada kondisi tertentu, asam urat dapat menumpuk akibat tubuh menghasilkan asam urat dalam jumlah yang berlebihan atau mengalami gangguan dalam membuang kelebihan asam urat. Kadar asam urat dalam darah yang berlebihan akan menyebabkan pembentukan kristal asam urat di sendi. Kristal ini akan memicu peradangan, sehingga penderita akan mengalami gejala nyeri dan bengkak pada sendi. Selain di sendi, kristal asam urat juga bisa terbentuk di ginjal dan saluran kemih. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi ginjal ataupun menyebabkan batu ginjal dan atau batu saluran kemih. Perlu diketahui, meski disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia), tidak semua orang dengan hiperurisemia mengalami penyakit asam urat.

 

Penyakit asam urat umumnya ditandai dengan munculnya rasa nyeri yang terjadi secara tiba-tiba, meningkat dalam hitungan jam, dan bertahan selama beberapa waktu (biasanya beberapa hari hingga 1 – 2 minggu). Sendi yang nyeri juga kerap mengalami kemerahan, bengkak, dan terasa panas. Kekakuan pada sendi, yang telah disebutkan predileksinya di atas, menyebabkan terbatasnya pergerakan. Gejala-gejala tersebut biasanya hanya terjadi pada satu sendi, tetapi juga bisa terjadi pada beberapa sendi di saat yang bersamaan (lebih sering pada gout kronis yang telah lama tidak diterapi atau pada wanita post menopause. Selain pada sendi kadang peradangan juga dapat merambah ke jaringan lunak lain dan menyebabkan kelainan lain misalnya bursitis pada siku dan tendinitis pada Achilles. Gejala penyerta lain yang juga dapat terjadi adalah demam, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas. Namun bila gejala penyerta ini muncul kita perlu waspada dan membedakannya dengan penyakit infeksi pada sendi.

Jika artritis gout tidak diobati dalam jangka waktu yang lama, kristal dapat membentuk gumpalan di bawah kulit di sekitar sendi yang disebut sebagai tophi. Selain itu kerusakan dalam sendi juga dapat terjadi dan juga bisa berujung pada perubahan bentuk sendi (deformitas).

Diagnosis gout dapat ditegakkan dengan pemeriksaan:

  • Tes Darah. Tes ini ditujukan untuk mengukur kadar asam urat dalam darah. Orang yang mengidap hiperurisemia memiliki kadar asam urat dalam darah hingga > 6,8 mg/dL. Namun tingginya kadar asam urat ini tidak selalu berkorelasi dengan gejala gout karena beberapa orang diketahui memiliki kadar asam urat tinggi, tetapi tidak mengidap gout. Begitu juga pada banyak kasus, bahkan pada saat terjadi serangan akut gout, kadar asam urat dalam darah dapat turun hingga mencapai level normal. Sehingga pada banyak kasus, diagnosis gout masih dapat ditegakkan meski kadar asam urat dalam darah normal pada saat dites.
  • Tes Urine 24 jam. Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat dalam urine yang dikeluarkan pasien selama 24 jam terakhir.
  • Tes Cairan Sendi. Prosedur ini dilakukan dengan cara mengambil cairan sinovial pada sendi terkait kemudian sampel diperiksa dengan bantuan mikroskop. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi adanya kristal asam urat pada sampel cairan sendi tersebut.
  • Foto X-ray (roentgen). Pemeriksaan foto X-ray dilakukan guna melihat perubahan yang terjadi pada sendi yang terkena gout terutama pada fase lanjut. Pada fase awal gout mungkin akan terlihat normal atau hanya menunjukkan pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi yang asimetris bila dibandingkan dengan sendi sekitar. Sementara itu, USG juga bisa dilakukan untuk mendeteksi kristal asam urat pada sendi, penumpukan cairan pada sendi serta peradangan (sinovitis), serta melihat perubahan yang dapat terjadi pada tulang rawan dan erosi pada tulang.

 

Pengobatan penyakit asam urat memiliki 3 tujuan dasar yaitu untuk meredakan gejala terutama saat serangan nyeri akut, mencegah terulangnya serangan akut, dan mencegah atau mengatasi terjadinya komplikasi akibat penimbunan asam urat pada sendi, ginjal, atau bagian tubuh yang lain. Obat yang berguna untuk menurunkan kadar asam urat (ULT) seperti allopurinol atau probenecid sebetulnya tidak dianjurkan pada pasien dengan kondisi hiperurisemia tanpa gejala, kecuali bila memang ada indikasi khusus antara lain dalam terapi cytolytic untuk kasus kanker untuk mencegah terjadinya tumor lysis syndrome.

Prinsip pengobatan awal serangan akut gout adalah untuk menurunkan peradangan atau inflamasi dan mengatasi nyeri yang timbul. Pengobatan ini harus dilakukan sedini mungkin yaitu dalam 24 jam pertama munculnya serangan untuk meredakan keparahan serta durasi dari serangan. Terapi non farmakologis yang bisa diterapkan untuk meringankan gejala adalah dengan mengistirahatkan dan menempelkan kantung atau kain berisi es pada bagian sendi yang sakit. Untuk terapi secara farmakologis pasien dapat diberikan obat-obatan, seperti colchicine, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), atau kortikosteroid.

Terapi obat penurun kadar asam urat (Urate-Lowering Therapy atau ULT) disarankan untuk diberikan pada pasien dengan serangan gout yang terjadi ≥ 2 kali setahun, pasien dengan penyakit ginjal kronis (stage 3 atau lebih), adanya tophi ditemukan dari pemeriksaan fisik atau radiologis, dan riwayat batu ginjal atau saluran kemih. Terapi ini diberikan mulai dari dosis rendah kemudian naik perlahan, disertai dengan pemberian colchicine untuk mencegah terjadinya serangan akut

Terapi pembedahan jarang dibutuhkan dalam tatalaksana gout dan biasanya diberikan secara selektif pada kasus kronis akibat serangan berulang yang akhirnya menimbulkan kecacatan akibat deformitas pada sendi, nyeri yang sangat berat dan tidak bisa diatasi dengan terapi konservatif, tophi yang terinfeksi, dan kerusakan sendi yang sudah parah yang mengakibatkan penurunan fungsi gerak serta kualitas hidup.

 

Pencegahan penyakit gout dapat dilakukan secara non farmakologis dengan memodifikasi gaya hidup antara lain:

  • Minum banyak cairan. Jaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik, dengan minum banyak air, terutama air putih, sesuai kebutuhan yang direkomendasikan biasanya mencapai 2 liter sehari.
  • Batasi atau hindari alkohol. Berdasarkan penelitian, risiko gejala asam urat bisa meningkat karena konsumsi bir yang berlebihan, terutama pada pria.
  • Dapatkan protein dari produk susu rendah lemak. Produk susu rendah lemak, seperti low fat milk ataupun skim milk, memiliki efek perlindungan terhadap asam urat
  • Batasi asupan daging, jeroan, seafood, dan asupan yang tinggi kadar pemanis fruktosa (High Fructose Corn Syrup) misalnya soda, es krim, permen. Sejumlah kecil mungkin dapat ditolerir, tetapi perhatikan jenis apa saja, dan seberapa banyak yang dampaknya menimbulkan masalah kesehatan.
  • Pertahankan berat badan yang ideal. Pilih porsi yang memungkinkan untuk mempertahankan berat badan yang sehat. Menurunkan berat badan dapat menurunkan kadar asam urat dalam tubuh. Namun, hindari penurunan berat badan secara cepat karena hal itu dapat meningkatkan kadar asam urat untuk sementara.

 

*Artikel ini ditulis oleh dr. Hendy Hidayat, SpOT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine. www.dokternicolaas.com, instagram : @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Peranan Fisioterapis Dalam Dunia Ortopedi

Artikel di bawah membahas mengenai fisioterapi (suatu layanan yang diberikan seorang fisioterapis / dengan kata lain membahas sekilas mengenai suatu cabang ilmu fisioterapi), bukan tentang pemberi layanan fisioterapi (fisioterapis).

Selengkapnya

Cedera pada Bulutangkis

Badminton atau bulu tangkis adalah olahraga yang sangat popular di Indonesia. Dianggap sebagai olahraga raket tercepat, pemain bulu tangkis membutuhkan stamina aerobik, kelincahan, kekuatan, kecepatan, dan ketepatan, dan koordinasi motorik yang baik.

Selengkapnya