Dislokasi Bahu

Dislokasi bahu adalah kondisi ketika bonggol tulang lengan bagian atas (humerus) terlepas dari mangkuk/ socket sendi bahu. Dislokasi bahu cenderung terjadi pada dua kelompok pasien dengan mekanisme yang berbeda yaitu pasien usia muda (terutama yang terlib



Dislokasi bahu adalah kondisi ketika bonggol tulang lengan bagian atas (humerus) terlepas dari mangkuk/ socket sendi bahu. Dislokasi bahu cenderung terjadi pada dua kelompok pasien dengan mekanisme yang berbeda yaitu pasien usia muda (terutama yang terlibat aktivitas fisik seperti olahraga kontak dan olahraga yang dapat meningkatkan risiko jatuh) dan pasien usia tua (akibat melemahnya struktur serat kolagen pada tendon dan kartilago  seiring usia). Kelompok pasien lain yang juga lebih mudah mengalami dislokasi adalah pada pasien dengan sendi yang terlalu lentur/ fleksibel (joint hyperlaxity).

 

Sendi bahu terdiri atas bonggol dan mangkuk/ socket. Bonggol ini harus senantiasa berada dalam mangkuk tersebut agar bahu bisa leluasa bergerak sesuai rentang gerak sendi yang seharusnya. Dislokasi bahu terjadi ketika bonggol, yang merupakan bagian dari kepala tulang lengan atas atau humerus, keluar dari mangkuk yang mewadahinya. Mangkuk sendi yang menjadi wadah bonggol ini sangat dangkal sehingga selain membuat bahu menjadi sangat mobile dan dapat bergerak ke banyak arah, namun juga menjadikan bahu kurang stabil dan paling mudah mengalami dislokasi (50% dari keseluruhan dislokasi pada sendi besar). 

 

Penyebab Dislokasi Bahu

Bahu bisa mengalami dislokasi karena adanya tenaga yang kuat, misalnya pukulan, pembebanan aksial, atau tarikan saat sendi bahu dalam posisi tertentu sehingga jaringan ikat yang menghubungkan kedua tulang pada sendi menjadi meregang bahkan sobek yang kemudian dapat menyebabkan bonggol lengan atas keluar dari mangkuknya.

 

Pasien yang memiliki riwayat dislokasi bahu sebelumnya akan lebih rentan untuk mengalami dislokasi ulang yang bisa disebabkan oleh penyembuhan yang kurang baik sehingga sendi menjadi kendur. Pasien berusia muda juga memiliki risiko dislokasi ulang lebih tinggi karena aktivitas fisik yang juga lebih tinggi.

 

Berbagai penyebab dislokasi bahu, antara lain akibat:

  • Cedera olahraga, terutama olahraga kontak (contohnya rugbi dan hoki), dan olahraga dengan risiko jatuh (contohnya gimnastik, ski dan voli).

  • Kecelakaan lalu lintas, seperti tabrakan kendaraan bermotor yang menyebabkan benturan keras pada bahu.

  • Jatuh, terutama pada saat tangan refleks menahan tubuh.

  • Kejang yang menyebabkan otot di sekitar bahu berkontraksi dan keluar dari lokasinya.

  • Sendi yang terlalu lentur (hyperlaxity). Beberapa orang memiliki ligamen bawaan yang longgar di seluruh tubuh, termasuk bahu. Ligamen bahu yang longgar membuat bonggol sulit dipertahankan berada di mangkuk persendian sehingga lebih mudah mengalami dislokasi.

Tipe Dislokasi Bahu

Berdasarkan arah dislokasi, tipe yang paling sering terjadi adalah dislokasi ke arah depan (95 – 97% kasus). Namun dislokasi juga bisa mengarah ke belakang (2 – 4%) atau bawah (< 1%), tergantung penyebabnya. 

 

Ada dua macam dislokasi bahu berdasarkan posisi keluarnya bonggol, yaitu:

  • Subluksasi: hanya sebagian bonggol yang keluar dari mangkuk persendian

  • Dislokasi total: seluruh bagian bonggol keluar dari mangkuk persendian.

 

Dislokasi kadang dapat disertai dengan patah tulang, cedera pada jaringan lunak di sekitar (misalnya otot rotator cuff, ligament, kapsul sendi, dan labrum). Saraf dan pembuluh darah juga bisa terluka akibat dislokasi yang parah sehingga membutuhkan pertolongan medis segera.

 

Gejala dan Tanda Dislokasi Bahu

Seseorang yang mengalami dislokasi bahu dapat mengalami gejala dan tanda berikut:

  • Nyeri yang tidak tertahankan di bahu.

  • Sensasi letupan (popping) di bahu.

  • Sensasi bonggol terasa bergeser keluar dari mangkuk sendinya.

  • Sulit atau tidak mampu menggerakkan bahu.

  • Tonjolan di depan atau belakang bahu.

  • Deformitas cekungan pada sekitar bahu (berlawanan dengan area tonjolan).

  • Bengkak dan memar di sekitar bahu.

  • Tegang/kram pada otot di sekitar bahu

  • Mati rasa atau kesemutan di leher, lengan, atau jari tangan

 

Kapan harus ke Dokter?

Demi keamanan, segera cari pertolongan medis ke instalasi gawat darurat terdekat jika mengalami gejala yang mengarah ke terjadinya dislokasi sendi. Dokter orthopedi-lah yang akan melakukan penanganan medis secara komprehensif. Sambil menunggu penanganan secara medis, perhatikan beberapa tips sebagai berikut :

  • Jangan menggerakan sendi apalagi mencoba sendiri mengembalikan sendi yang dislokasi secara paksa ataupun memijat bahu yang cedera karena hal ini dapat menambah kerusakan pada otot, ligamen, saraf, maupun pembuluh darah di sekitarnya. Letakkan sesuatu yang empuk, seperti bantal kecil maupun lipatan kain, di sela ketiak sisi sakit (antara lengan atas dan sisi samping dada) serta bila memungkinkan topang lengan bawah menggunakan gendongan (sling) sederhana dengan posisi siku menekuk yang paling nyaman.

  • Kompres dingin bahu (bisa dengan es batu atau ice pack yang dibalut handuk) dapat membantu meredakan nyeri dan bengkak dengan membantu mengontrol perdarahan, peradangan, maupun penumpukan cairan dalam dan sekitar sendi bahu.

 

Diagnosis

Diagnosis dislokasi bahu dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis oleh dokter. Setelah itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan radiologis berupa foto polos/ Rontgen pada bahu pasien untuk mengonfirmasi diagnosis dan melihat seberapa jauh sendi bahu terlepas serta memastikan arah dislokasi, serta mendeteksi kerusakan penyerta lain seperti adanya patah tulang atau cedera pada sendi lain di sekitar. Pemeriksaan radiologis tambahan lain yang juga bisa dilakukan adalah CT Scan (untuk melihat seberapa parah kerusakan pada tulang baik bonggol lengan atas maupun mangkuk sendi) dan MRI (untuk melihat robekan dari labrum (tepian sendi) atau kerusakan jaringan lunak lain seperti ligamen dan otot sekitar).


 

Pengobatan

Pengobatan untuk dislokasi bahu yang utama adalah untuk segera mengembalikan posisi bonggol ke rongga persendian melalui suatu prosedur reduksi tertutup. Sebelum tindakan, pasien akan diberikan obat pelemas otot, obat penenang, atau obat bius untuk mengurangi nyeri saat prosedur ini dilakukan. Dokter Orthopedi bersama tim akan mengembalikan tulang lengan atas yang bergeser atau terlepas ke posisi semula. Rasa sakit akan berkurang dan hilang setelah bonggol ditempatkan kembali ke mangkuk. Setelah bonggol dikembalikan ke tempatnya, lengan harus diimobilisasi dengan memasang alat penyangga khusus misalnya gendongan lengan (armsling) selama kurun waktu yang ditentukan dokter untuk mencegah dislokasi berulang. Ada beberapa faktor yang terkait dengan peningkatan risiko dislokasi berulang antara lain usia muda (< 20 tahun), pria, melakukan olahraga kontak, hyperlaxity, serta kerusakan struktur tertentu yang terkait dengan kestabilan sendi bahu.

 

Selama masa pemulihan, dokter akan memberikan obat-obat pereda nyeri. Kompres es dapat diberikan pada bahu untuk membantu meredakan rasa sakit dan pembengkakan. Setelah armsling dilepas, program rehabilitasi medik/ fisioterapi akan dimulai secara bertahap untuk mengembalikan rentang gerak, kekuatan, dan stabilitas dari sendi bahu serta mencegah kekakuan sendi juga dapat membantu mengurangi nyeri. Jangan membawa beban berat dan mengangkat lengan sampai kondisi bahu membaik. Hindari juga melakukan gerakan yang sebelumnya menyebabkan dislokasi bahu.

 

Ada beberapa kondisi dimana reduksi secara tertutup tidak bisa dilakukan antara lain bila bonggol tak dapat dimasukkan ke mangkuk dengan reduksi tertutup sehingga pasien perlu menjalani prosedur operasi (reduksi terbuka). Indikasi operasi umumnya dibutuhkan bila terjadi kerusakan penyerta tertentu pada area bahu (misalnya disertai robekan ligamen, tendon, labrum, patah tulang, cedera pada saraf maupun pembuluh darah), dislokasi bahu yang terjadi berulang kali (antara lain karena jaringan penyokong di sekitar bahu sudah lemah atau akibat kerusakan struktur stabilisator sendi), atau pada kasus khusus misalnya dislokasi pada atlet dengan demand yang sangat tinggi. Tujuan operasi adalah untuk memperbaiki posisi bahu dan mengencangkan jaringan penyokong yang lemah atau robek sehingga dapat mencegah dislokasi berulang. Operasi dapat dikerjakan dengan beberapa metode sesuai dengan indikasi dan sumber daya yang tersedia. Contoh prosedur operasi antara lain bisa dilakukan dengan secara minimal invasive (sayatan kulit kecil serta bantuan teropong serta kamera kecil/ artroskopi) yang memungkinkan terjadinya proses penyembuhan yang lebih cepat dan nyeri relatif lebih rendah maupun operasi rekonstruksi terbuka misalnya untuk memindah sebagian tulang untuk stabilisasi.

 

Pencegahan Dislokasi Bahu

Dislokasi bahu dapat dicegah dengan:

  • Berhati-hati dalam beraktivitas agar tidak terjatuh atau mengalami cedera/ kecelakaan yang berisiko menyebabkan dislokasi bahu.

  • Latihan teratur untuk mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas sendi dan otot bahu.

  • Menggunakan alat pelindung ketika melakukan olahraga yang melibatkan kontak fisik, seperti rugbi.

Seseorang yang pernah menderita dislokasi bahu cenderung lebih mudah mengalami dislokasi bahu kembali. Jika merasa bahu sangat sakit, apalagi ada kelainan bentuk dan gerakan jadi terbatas, jangan tunda untuk mendatangi dokter. Pertolongan medis secepatnya sangat diperlukan untuk menekan risiko kerusakan permanen pada persendian bahu.

 

*Artikel ini ditulis oleh dr. Hendy Hidayat, SpOT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine. www.dokternicolaas.com, instagram : @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Hubungan Susu dan Tulang kalau Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa

Susu merupakan salah satu sumber nutrisi kalsium, protein, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang anak dan remaja. Meskipun demikian, tidak semua orang bisa minum susu akibat kondisi medis tertentu yang dimilikinya antara lain adalah a

Selengkapnya

Menjaga Kesehatan Tulang Hingga Usia Tua

Kita semua berharap agar tulang dan sendi akan senantiasa tetap sehat hingga hari tua nanti. Di usia tua, semua orang rawan mengalami berbagai permasalahan seputar alat gerak tubuh seperti nyeri sendi, pengapuran, keropos tulang, hingga rematik. Bila asp

Selengkapnya