Pembedahan lutut dengan CAOS

Seiring meningkatnya jumlah penduduk berusia lanjut dunia, maka penyakit-penyakit degeneratif pun semakin banyak ditemukan



Misalnya penyakit osteoartritis, suatu gangguan di persendian, yang amat menurunkan kualitas hidup seseorang. Diperkirakan, di tahun 2020 nanti penderita osteoartritis akan mencapai 60 juta orang. 

Menurut dokter ahli bedah tulang dari RS Medistra Jakarta, Dr. Nicolaas C. Budhiparama, Jr. FICS., penyakit seperti osteoartritis tidak bisa disembuhkan, sehingga harus ditangani dengan tindakan medis. Selain dengan obat-obatan juga bisa diberikan terapi fisik (fisioterapi). Namun umumnya kedua jenis terapi ini tidak terlalu menggembirakan. Jalan terakhir yang dipilih untuk menyelamatkan penderita osteoartritis dari kecacatan adalah dengan pembedahan untuk mengganti tulang sendi yang sudah rusak. 

Pembedahan untuk penggantian sendi dalam hal ini sendi lutut disebut Total Knee Replacement (TKR). TKR sudah dilakukan pada sekitar 400.000 penderita osteoartritis di Amerika Serikat. Angka keberhasilan yang ditunjukkan dengan kepuasan pasien mencapai 85-90%. "Umumnya pasien yang menjalani TKR merasa puas karena nyeri hilang dan bebas bergerak kembali," jelas Dr. Nico. Operasi ini paling sering dilakukan pada pasien berusia di atas 67 tahun. 

Di Indonesia TKR masih jarang dilakukan. Alasannya belum semua dokter menguasai teknik operasi yang tingkat kesulitannya tinggi ini, dan sarana atau peralatan yang belum tersedia. Makanya banyak penderita osteoartritis yang memilih berobat ke Singapura. Dr Nico sendiri sudah melakukan TKR di RS Medistra sejak Mei 2006. RS Medistra adalah satu-satunya rumah sakit yang sudah menyediakan layanan ini. Kini bahkan sudah dilengkapi dengan metode terbaru yakni dengan menggunakan Computer Assisted Orthopedic Surgery (CAOS). 


CAOS adalah teknologi baru yang dirancang untuk memudahkan dan mengurangi kesalahan saat operasi. Teknologi berbasis komputer ini menjadi semacam panduan. Ia dapat menampilkan gambar sendi pasien dan lokasi-lokasi yang tepat untuk dilakukan pemotongan sendi. Dengan bantuan CAOS, maka kesalahan bisa diminimalkan. Menurut Nico, tingkat akurasi menggunakan CAOS amat tinggi sekitar 0,1 mm. Dibandingkan dengan metode lain yang tanpa komputer, tingkat kesalahan juga lebih rendah, yakni 0,59 milimeter berbanding 2,4 milimeter. 
Selain membantu dokter ahli bedah tulang dengan memberikan data dan informasi yang akurat, CAOS juga memiliki keunggulan lain.

Dengan bantuan alat ini, maka tindakan bedah tulang tidak lagi membutuhkan banyak alat bantu karena hanya dibutuhkan sayatan yang relatif kecil. CAOS akan mencatat dan menyimpan data pasien yang telah mendapat tindakan bedah tulang, sehingga suatu saat bila diperlukan maka data dengan mudah dapat dilihat kembali. CAOS juga sangat compact dan ringan serta mudah dipindahkan. Dengan sistem nirkabel (tanpa kabel) alat ini akan menjaga ruangan bebas dari kabel yang biasanya ikut menyumbang terjadinya infeksi. 
Dengan bantuan CAOS operasi bisa dilakukan dengan pembedahan minimal atau Minimally Invasive Surgery, sehingga operasi yang dilakukan akan semakin meminimalkan segala efek samping yang dapat terjadi. Keuntungan potensial yang terjadi pada operasi invasif minimal adalah trauma pada lutut semakin kecil, pendarahan selama operasi lebih sedikit, dan rasa sakit bagi pasien sangat berkurang. 
Selain itu secara kosmetik, sayatan lebih tampak sebagai luka kecil dan tidak meninggalkan bekas yang seram. Rawat inap yang dijalankan juga lebih singkat karena proses pemulihan yang lebih cepat dibandingkan cara konvensional. 
Dengan teknik operasi bedah minimal, maka kemungkinan komplikasi akan lebih dapat diatasi. Komplikasi yang bisa terjadi pasca operasi seperti terjadi infeksi biasanya terjadi karena faktor keahlian dari operator dalam hal ini dokter ahli bedah tulang yang menjalankan operasi tersebut. Faktor usia, berat badan dan kesehatan pasien juga berpengaruh. Pasien yang usai menjalani operasi lain sering juga mengeluhkan ketidaknyaman. Dengan bantuan terapi fisik, nyeri dan tidak nyaman bisa berkurang dan dalam waktu sekitar 3-4 minggu pasien bisa berjalan kembali. 

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Canggih, Robot Bisa Operasi Tulang Belakang

Bidang kedokteran di dunia berkembang dengan pesat hingga saat ini. Salah satu perkembangan di industri kesehatan itu berkaitan dengan penggunaan teknologi terbaru yang dapat melakukan serangkaian tindakan kompleks, yaitu robot.

Selengkapnya

Praktek Ortopedi di Indonesia, diterbitkan di AOA (Australian Orthopae...

Praktek Ortopedi di Indonesia, diterbitkan di AOA (Australian Orthopaedic Association) Vol. 30 No. 3 December 2009

Selengkapnya

Melapisi Dengkul Dengan Plastik

Artikel majalah GATRA 5 September 2007

Selengkapnya